GROBOGAN - Perjalanan Shafira Noor Maharani Wichu Putri di ajang Putri Kebaya Jawa Tengah 2026 bukan sekadar kompetisi, tetapi proses panjang yang membentuk karakter, kepercayaan diri, dan kecintaannya pada budaya Indonesia.
Remaja asal Grobogan ini membuktikan bahwa kebaya bukan hanya busana tradisional, tetapi simbol identitas generasi muda yang berani tampil sekaligus menjaga nilai budaya.
Selama tujuh bulan masa persiapan, Shafira tidak hanya berlatih secara teknis, tetapi juga mengasah mental, sikap, dan pemahaman tentang filosofi kebaya.
Siswi SMAN 1 Purwodadi tersebut mengaku merasa nyaman saat berada di atas panggung karena telah melalui proses latihan yang intens bersama para mentor.
Menurutnya, tampil di panggung bukan sekadar berjalan mengenakan busana, tetapi menghadirkan karakter yang sesuai dengan makna kebaya yang dipakai.
Saat mengenakan kebaya janggan, ia menampilkan sisi lembut dan feminin.
Sementara pada kebaya urban dengan simbol burung dan api abadi Mrapen, ia menunjukkan karakter yang lebih berani dan tegas.
Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika mengenakan kebaya glamor karya desainer Intan Avantie yang dipadukan dengan Arsitacraft.
Busana tersebut meningkatkan rasa percaya diri dan membantunya membentuk karakter sebagai perempuan muda yang berdaya melalui kebaya.
Keikutsertaan dalam Putri Kebaya Jawa Tengah 2026 juga memberinya banyak pengalaman baru.
Ia mendapatkan wawasan lebih luas mengenai dunia pageant, memperdalam pengetahuan budaya, serta memperluas pertemanan dengan peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Prestasi membanggakan pun diraih Shafira dengan gelar Best Speech dan 1st Runner Up kategori Remaja, sekaligus mengantarkannya melaju ke tingkat nasional 2026.
Baginya, proses belajar yang dijalani selama persiapan menjadi hal paling berharga dibandingkan hasil akhir semata.
Saat audisi, Shafira mempersiapkan kemampuan dasar seperti public speaking dan catwalk, karena seleksi meliputi tes tertulis, presentasi, serta teknik berjalan di panggung.
Menjelang grand final, ia semakin memperdalam wawasan mengenai etika berkebaya, teknik catwalk, serta kemampuan berbicara di depan publik.
Dalam pembuatan video profil dan penampilan bakat, Shafira memilih beberapa lokasi wisata di Grobogan, seperti Air Terjun Widuri dan Goa Lawa.
Ia juga menampilkan kemampuan bermain biola dan color guard sebagai bagian dari bakat yang ditampilkan.
Di balik penampilannya yang tenang, ia juga menghadapi tantangan, salah satunya kondisi ruangan yang dingin sehingga membuat tenggorokan kering.
Meski demikian, ia tetap berusaha menjaga ekspresi, sikap, serta fokus saat menjawab pertanyaan dewan juri.
Berkat dukungan keluarga, sekolah, serta berbagai pihak, langkah Shafira kini berlanjut ke tingkat nasional 2026.
Dari Grobogan, ia membawa lebih dari sekadar prestasi, tetapi juga cerita tentang proses, pengalaman, dan kecintaan generasi muda terhadap kebaya sebagai warisan budaya Indonesia.
Editor : Abdul Rochim