GROBOGAN — Panggilan kemanusiaan membawa Laura Christy Evangela menantang derasnya arus banjir di Kecamatan Godong, Grobogan.
Siswi SMK Negeri 1 Purwodadi ini memilih turun langsung membantu evakuasi warga yang terjebak banjir, meskipun tubuhnya sudah kelelahan setelah berjam-jam bertugas di lapangan.
Malam itu, air berwarna cokelat mengalir deras menutupi jalan. Lampu kendaraan memantul di genangan yang semakin tinggi.
Baca Juga: Percepatan IKD di Grobogan, ASN Wajib Aktivasi untuk Dongkrak Capaian KTP Digital
Di tengah situasi yang mencekam, Laura berdiri mengenakan seragam lapangan, menatap sebuah bus yang terjebak banjir.
Beberapa jam sebelumnya, ia bersama tim relawan membantu penanganan tanggul bocor di Tinanding, Kecamatan Godong.
Saat hendak pulang, informasi datang bahwa ada bus yang tidak bisa melintas karena arus terlalu deras. Tanpa ragu, Laura bersama tim langsung bergerak membantu proses evakuasi penumpang.
Satu per satu korban dikeluarkan dari dalam bus. Dalam kondisi minim cahaya, hanya mengandalkan senter dan lampu kendaraan, Laura membantu memandu penumpang melewati air setinggi lutut hingga pinggang.
Beberapa di antaranya terlihat gemetar, bahkan ada yang pingsan akibat kelelahan dan kesulitan bernapas.
“Itu kali pertama saya menolong korban langsung di dalam bus. Rasanya campur aduk. Takut ada, capek juga. Tapi saya bersyukur bisa membantu,” tuturnya pelan.
Keberanian Laura tidak muncul begitu saja. Ia lahir di Kuala Simpang pada 21 April 2008.
Sejak kecil, ia terbiasa menghadapi banjir yang hampir setiap tahun melanda wilayah tempat tinggalnya.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami kecemasan dan ketidakpastian yang dirasakan korban bencana.
Saat keluarganya pindah ke Purwodadi, Grobogan, dan ia melihat wilayah tersebut juga sering dilanda banjir, kenangan masa kecilnya kembali muncul.
Bedanya, kali ini ia ingin menjadi bagian dari solusi, bukan hanya sekadar penonton.
“Karena saya pernah merasakan banjir waktu di Aceh, jadi ketika di sini juga sering banjir, saya ingin ikut membantu,” ujarnya.
Sejak awal bersekolah, Laura aktif mengikuti kegiatan Pramuka.
Dari sana, ia kemudian bergabung dengan Saka Wira Kartika Grobogan, sebuah wadah pembinaan generasi muda yang menanamkan kedisiplinan, kerja sama tim, serta kepedulian sosial.
Melalui kegiatan tersebut, Laura mendapat kesempatan mengikuti berbagai aksi kerelawanan, khususnya saat terjadi bencana banjir.
Ketika kakak dewan saka menawarkan peluang untuk terjun langsung membantu masyarakat, ia tanpa ragu menyatakan kesiapannya.
Baginya, Pramuka bukan hanya kegiatan ekstrakurikuler, tetapi tempat belajar tentang arti tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama.
Di lapangan, rasa takut tetap ada. Arus air yang deras dapat membahayakan siapa saja, sementara kondisi fisik yang lelah bisa memengaruhi konsentrasi.
Namun Laura berusaha tetap tenang dengan mengatur napas dan berdoa agar semua proses berjalan aman.
Ia juga belajar berbagai pengetahuan dasar, mulai dari teknik pencarian korban, prosedur evakuasi, hingga pentingnya memahami kondisi cuaca dan lingkungan sebelum melakukan tindakan.
Meski aktif menjadi relawan, Laura tetap memprioritaskan pendidikannya.
Ia memastikan tugas sekolah tetap diselesaikan dengan baik. Jika harus bertugas saat jam pelajaran, ia mengurus izin resmi atau surat dispensasi.
Di usia yang masih muda, Laura memilih jalan yang tidak banyak diambil remaja seusianya. Ia hadir di tengah bencana bukan untuk mencari perhatian, melainkan untuk membantu sesama agar selamat dari risiko banjir.
Saat cuaca tidak menentu, dari panas terik hingga hujan deras, Laura tetap bersiaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Baginya, menjadi relawan bukan soal menjadi pahlawan, melainkan tentang kepedulian sederhana yang memberi harapan bagi orang lain.
“Tidak perlu menyelamatkan seluruh dunia dalam satu hari,” ucapnya. “Cukup mulai dengan menjadi alasan seseorang hari ini merasa bahwa dunia tidak sejahat yang mereka kira.” (*)