RADAR PATI - DI tengah kesibukan mengajar, Nailis Sa’adah (27) warga Desa Troso RT 03/RW 01, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, justru mampu menumbuhkan usaha kreatif berbasis kain tenun.
Perempuan muda ini tak hanya berprofesi sebagai guru, tetapi juga pelaku usaha yang mengolah limbah perca tenun menjadi berbagai produk bernilai jual.
Sehari-hari Nailis mengajar di RA Matholi’ul Huda I Troso. Sepulang dari sekolah, waktunya diisi dengan mengelola usaha kerajinan berbahan limbah kain tenun.
Baca Juga: Debu Pemasakan Aspal di Sekitar Bandara Dewadaru di Jepara Bikin Sesak Napas dan Tidak Nyaman
Jika sebelumnya ia hanya fokus menjual kain dan baju tenun, dalam dua tahun terakhir ia mulai mengolah limbah perca kain tenun menjadi berbagai produk kreatif.
Dari potongan-potongan kain yang kerap dianggap sisa produksi, Nailis justru melihat peluang.
Ia mengolahnya menjadi sekitar 25 jenis produk, seperti pouch, dompet, totebag, hingga tas.
Produk-produk tersebut dipasarkan dengan harga mulai Rp 20 ribu hingga sekitar Rp 160 ribu per item.
Baca Juga: Pemkab Jepara Perluas Program Kartu Sarjana, Bantu Mahasiswa Kesulitan Bayar UKT
Produk buatannya kerap dipesan sebagai souvenir untuk berbagai acara, mulai dari kegiatan instansi hingga pernikahan. Selain menjual sendiri, ia juga menjadi pemasok bagi para reseller yang kini jumlahnya mencapai sekitar 80 orang.
Usaha yang dirintisnya sebenarnya sudah dimulai sejak akhir 2019, saat ia masih berstatus mahasiswa di UIN Walisongo Semarang.
Saat itu ia mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Fakultas Tarbiyah. Awalnya, usaha tersebut hanya sebatas coba-coba dengan menjual produk melalui WhatsApp.
“Dulu awalnya iseng saja. Saya coba jualan kecil-kecilan lewat WhatsApp saat masih kuliah,” ujarnya.
Sebelum menekuni usaha tenun, Nailis sempat mencoba berjualan jilbab saat awal kuliah.
Namun karena tinggal di Desa Troso yang dikenal sebagai sentra industri tenun, ia akhirnya tertarik mengikuti jejak keluarganya yang telah lebih dulu terjun di bidang tersebut.
Ayahnya dulu juga pernah memproduksi kain tenun. Bahkan beberapa saudara dari pihak ayah juga berprofesi sebagai pengrajin tenun.
Lingkungan inilah yang membuat Nailis akrab dengan kain tenun sejak kecil.
Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, ia juga mengikuti langkah kakaknya yang lebih dulu berjualan kain tenun secara online.
Dari situlah Nailis mulai belajar memasarkan produk dan membangun jaringan pelanggan.
Menariknya, Nailis tidak memproduksi kain tenun sendiri. Ia bekerja sama dengan para pengrajin yang banyak tersebar di Troso.
Pola ini juga banyak dilakukan oleh anak muda di desa tersebut, yakni menjadi penjual atau pemasok produk tenun tanpa harus memiliki alat produksi sendiri.
Seiring waktu, usaha Nailis terus berkembang. Produk olahan limbah kain tenun buatannya bahkan kini sudah tersedia di Dekranasda Jepara.
Selain itu, ia juga telah mempekerjakan enam penjahit untuk membantu memproduksi berbagai kerajinan dari kain tenun.
Pasarnya pun tidak hanya terbatas di Jawa. Produk-produk buatannya sudah pernah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Bali, Jakarta, Lombok, Papua hingga Nusa Tenggara Timur.
Di luar aktivitas mengajar dan berbisnis, Nailis juga aktif sebagai konten kreator. Sudah tiga tahun terakhir ia membuat konten di media sosial, terutama terkait ulasan tempat makan, kafe, hingga hotel.
Awalnya ia hanya gemar mereview coffeeshop yang dikunjunginya. Namun sejak 2023, ia mulai lebih serius membuat video pendek tentang perjalanan, kuliner, dan tempat-tempat menarik.
“Belajar ngonten juga otodidak. Awalnya karena suka saja review coffeeshop,” katanya. (dik/him)
Editor : Admin