Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Raih Best Speech dan Juara 2 Remaja, Sosok Shafira Noor Maharani asal Grobogan Melaju ke Nasional 2026

Intan Maylani Sabrina • Senin, 2 Februari 2026 | 19:44 WIB
Wanmedia untuk Radar Pati
Wanmedia untuk Radar Pati

RADAR PATI— Perjalanan Shafira Noor Maharani Wichu Putri di ajang Putri Kebaya Jawa Tengah 2026 bukan sekadar cerita tentang kompetisi, tetapi tentang pengalaman unik seorang remaja yang menemukan jati diri melalui proses panjang dan kebudayaan.

Selama tujuh bulan persiapan, Shafira ditempa bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara mental dan karakter.

“Dengan persiapan yang saya jalankan selama tujuh bulan dengan bimbingan para mentor, di atas panggung rasanya enjoy, nggak ada grogi, bawaannya happy aja,” tutur siswa SMAN 1 Purwodadi ini.

Baginya, panggung bukan ruang menakutkan, tetapi ruang ekspresi. Setiap kebaya yang dikenakan harus dihayati, bukan hanya dipakai.

“Di atas panggung saya harus bisa menjiwai kostum yang saya pakai. Saat kebaya janggan, saya harus tampil lembut dan feminin. Saat kebaya urban, karena ada simbol burung dan api abadi Mrapen, saya harus tampil lebih berani,” ujarnya.

Momen paling berkesan baginya adalah saat mengenakan kebaya glamor karya Intan Avantie dan Arsitacraft.

"Kebaya glamor itu membuat saya lebih percaya diri dan membentuk karakter saya sebagai perempuan muda yang berdaya akan kebaya,” katanya.

Pengalaman di ajang Putri Kebaya Jawa Tengah 2026 membuka banyak ruang belajar baru.

"Pengalaman ini menambah experience saya di dunia pageant, memperluas wawasan, dan menumbuhkan cinta pada budaya Indonesia, khususnya kebaya. Saya juga dapat teman-teman baru dari berbagai kota di Jawa Tengah,” ungkap Shafira.

Prestasi yang diraih pun membanggakan. Ia berhasil menyabet Best Speech dan 1st Runner Up kategori Remaja, sekaligus melangkah ke ajang nasional 2026. Namun, proses menuju panggung itu jauh lebih bermakna baginya dibanding sekadar hasil.

Saat audisi, perempuan kelahiran Grobogan 18 Agustus 2007 ini fokus mempersiapkan diri pada dasar-dasar penting. “Waktu audisi saya belajar public speaking dan catwalk, karena ada tes tertulis, public speaking, dan catwalk,” jelasnya.

Persiapan menuju grand final pun semakin dimatangkan. “Lebih diperdalam lagi tentang wawasan berkebaya, etika berkebaya di atas panggung, catwalk, dan public speaking,” tambahnya.

Pengalaman unik lainnya hadir saat membuat video profil dan bakat. “Video profil dan bakat saya ambil dari beberapa objek wisata di Grobogan, seperti Air Terjun Widuri dan Goa Lawa. Bakat saya perdalam di biola dan color guard,” katanya.

Di balik ketenangan yang ia tampilkan, Shafira juga menghadapi tantangan.

“Tantangannya itu suhu ruangan yang dingin, tenggorokan jadi kering. Tapi saya harus tetap menjaga sikap, ekspresi, dan fokus dengan materi yang ditanyakan juri,” ujarnya.

Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan berbagai pihak, langkah Shafira kini melaju ke tingkat nasional. Dari Grobogan, ia membawa lebih dari sekadar nama dan prestasi—ia membawa cerita tentang proses, pengalaman unik, dan cinta pada budaya. (int)

Editor : Abdul Rochim
#Puteri Kebaya Jawa Tengah #grobogan