PATI - Matahari pagi di lereng Pegunungan Kendeng Desa Gunung Panti, Kecamatan Winong, bersinar terang, Senin (15/12/2025).
Hari itu, Keluarga Besar SMA Negeri 1 Jakenan (Smanja) bersama komunitas Giat Tanam 33, Jaringan Masyarakat Peduli Kendeng (JMPPK), dan pemerintah setempat, menyatukan langkah. Misinya satu: mengembalikan rona hijau Pegunungan Kendeng yang kian memudar.
Menanam untuk Kehidupan, Bukan Sekadar Seremoni
Kawasan Karst Kendeng bukan sekadar deretan bukit kapur.
Ia adalah spons raksasa penyerap air, benteng alami banjir, dan penyerap karbon dioksida.
Namun, realitas berkata lain; saat ini gunungnya gundul jarang ada tanaman keras. Gunung juga tak terawat.
Keprihatinan inilah yang disuarakan oleh Harno, Koordinator Komunitas Peduli Kendeng Hijau.
"Komunitas ini lahir karena kondisi alam yang memprihatinkan. Burung mulai hilang dan gunung tidak terawat," ujar Harno dengan nada getir namun penuh harap.
Ia berpesan kepada para siswa SMA Negeri 1 Jakenan yang hadir, agar kepedulian ini tak berhenti saat acara usai.
"Peduli lingkungan, baik di sekolah maupun di Kendeng. Bawa ilmu ini ke mana pun kalian pergi."
Ribuan bibit tanaman buah unggul—mangga, sirsak, alpukat, matoa, hingga durian—kini tertanam di punggung Gunung Kendeng.
Pemilihan pohon buah bukan tanpa alasan; selain fungsi ekologis, ada harapan ekonomi bagi warga sekitar di masa depan.
Janji Mengawal Hingga Berbuah
Tantangan terbesar penghijauan bukanlah menanam, melainkan merawat.
Baca Juga: Penelitian Pupuk Hayati MTs Tarbiyatul Banin Winong Pati Disambut Antusias Petani, Ini Alasannya
Menyadari hal itu, sebuah "kontrak sosial" tak tertulis disepakati di bawah terik matahari Gunung Panti.
Camat Winong, Yoga Wibowo, menegaskan bahwa ini adalah proyek berkelanjutan.
"Komunitas dan pemerintah sepakat mengawal tanaman ini hingga berbuah. Tanam sekali, panen berkelanjutan. Kami akan melanjutkan penanaman sekaligus edukasi warga," tegasnya.
Komitmen serupa didengungkan oleh Ali, aktivis JMPPK.
Dengan lugas ia berujar, "Kami dari komunitas akan mengawal agar bibit tidak dicuri atau mati."
Sebuah deklarasi bersama pun terucap di akhir kegiatan: komitmen merawat bibit, meninggalkan herbisida yang meracuni tanah, dan menjaga Kendeng tetap lestari.
Sinergi antara Dinas Lingkungan Hidup, Muspika, Pemdes, petani, dan pelajar ini menjadi bukti bahwa menyelamatkan lingkungan butuh kerja kolektif.
Perayaan 4 Dekade yang Bermakna
Aksi menanam pohon ini bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri.
Ia adalah bagian dari denyut perayaan 40 tahun (4 Dekade) SMA Negeri 1 Jakenan yang jatuh pada 22 November 2025 lalu.
Di usia yang makin matang, Smanja memilih merayakan ulang tahun dengan cara memberi kembali kepada alam dan masyarakat.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Sholihul Fuad, menyampaikan apresiasi mendalam atas kolaborasi lintas sektor ini. Baginya, ini adalah bentuk pengabdian masyarakat yang nyata.
Rangkaian perayaan ini memang panjang dan berwarna.
Mulai dari donor darah, santunan yatim, hingga festival literasi. Puncaknya akan digelar pada 18 Desember 2025 mendatang lewat ajang Having Run 6K.
Namun, di balik ingar-bingar panggung musik dan bazar UMKM yang akan datang, jejak langkah para siswa di tanah kapur Kendeng hari ini memberikan pesan yang lebih sunyi namun mendalam.
Seperti slogan ulang tahun ke-40 mereka: Asa, Cita, Karya.
Di lereng Gunung Panti, mereka telah menanam 'Asa', demi 'Cita-cita' bumi yang lestari, melalui 'Karya' nyata menanam pohon untuk masa depan. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab