Sudah Punya Murid Mancanegara, Huda Purnawadi Buktikan Kaligrafi Nusantara Mendunia
PATI – Di balik sebuah meja kayu sederhana, seorang pria muda menunduk khusyuk. Pena bambu menari di atas kertas, meninggalkan jejak tinta yang seakan hidup.
Bukan sekadar garis, tetapi ayat-ayat suci yang menjelma menjadi karya seni bernilai tinggi.
Dialah Huda Purnawadi, kaligrafer asal Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, yang baru saja mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.
Awal September 2025 lalu, ia berhasil meraih Juara I Lomba Kaligrafi Internasional “Al-Akhlaq Award” di Doha, Qatar.
Kompetisi bergengsi itu diikuti lebih dari 300 kaligrafer dari berbagai negara. Setelah melalui tahap seleksi karya, hanya 15 finalis terbaik yang diundang langsung ke Doha.
Selama sepekan (2–8 September), para peserta diuji menulis langsung menggunakan gaya khat tsuluts jali, tanpa bantuan alat digital.
”Kami diberi waktu dari mengonsep hingga menulis karya jadi. Semua murni manual. Hasilnya kemudian dinilai juri internasional dan disahkan Kementerian Kebudayaan Qatar,” cerita Huda.
Tanggal 9 September 2025 menjadi hari bersejarah. Dari 15 finalis, karya Huda dinobatkan sebagai juara pertama.
Keunggulannya ada pada teknik, keindahan komposisi, serta kedalaman spiritual yang tercermin dalam goresannya.
Dari Dragon Ball ke Kaligrafi Qurani
Menjadi juara dunia tidak diraih Huda secara instan. Ia mengenang masa kecilnya sebagai penggemar gambar kartun.
”Buku tulis saya dulu penuh coretan Dragon Ball dan Kera Sakti,” ujarnya sambil tertawa.
Namun, titik balik datang saat ia melihat gurunya di madrasah menulis kaligrafi Arab. Dari situlah kecintaannya terhadap seni khat tumbuh.
Ia kemudian menimba ilmu di Kudus, berguru kepada KH Noor Aufa Shiddiq, salah satu maestro kaligrafi ternama.
“Kaligrafi melatih saya untuk sabar, tekun, dan disiplin. Setiap tarikan pena punya ruh sendiri,” ucap pria kelahiran 1991 itu.
Koleksi Pena Dunia, Murid dari Mancanegara
Dedikasi Huda tidak hanya tercermin dari karyanya, tetapi juga dari koleksi alat kaligrafi yang ia rawat.
Pena bambu, tinta impor dari Jerman hingga Qatar, hingga kertas khusus ia kumpulkan sebagai bagian dari perjalanannya.
“Setiap alat punya cerita. Saya merasa terhubung secara spiritual dengan pena dan tinta,” ungkapnya.
Kini, rumah sederhana Huda juga menjadi tempat belajar kaligrafi. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari luar negeri.
Ada yang singkat, ada pula yang menetap untuk mendalami seni khat.
Beberapa muridnya juga sudah menorehkan prestasi internasional.
“Baru kemarin ada murid saya yang juara di Malaysia. Saya ikut bahagia, karena seni ini terus diwariskan,” katanya.
Awal dari Perjalanan Panjang
Bagi Huda, kemenangan di Qatar bukan puncak, melainkan pijakan. Saat ini, ia sedang menyiapkan karya baru untuk kompetisi di Abu Dhabi.
“Kaligrafi itu bukan sekadar seni visual, tapi juga jalan spiritual. Saya ingin generasi muda jatuh cinta pada seni ini. Bukan hanya indah dipandang, tapi juga sarat nilai luhur,” pungkasnya.
Dengan semangat itu, Huda Purnawadi tidak hanya membawa nama Pati, tetapi juga menjadikan Indonesia semakin diperhitungkan di panggung seni kaligrafi dunia.(ade)
Editor : Alfian Dani