JEPARA, RADARPATI.ID - Sejak tahun 2018 lalu, Mita Lia Sofiana merintis sekolah alam sebagai alternatif bagi anak-anak di desanya untuk belajar di luar sekolah.
Jamaknya orang tua yang bekerja serabutan atau pabrik memunculkan keprihatinannya tersendiri, lantaran pendampingan terhadap anak-anak menjadi minim.
FIKRI THOHARUDIN, Jepara,
SENIN (12/5) siang hari, cuaca tak begitu terik namun tak juga mendung. Suasana langit di Dukuh Karang Anyar Desa Kaligarang, Kecamatan Keling tampak teduh.
Senyum mengembang di wajah Mita, perempuan 30 tahun asal daerah tersebut
Pemilik nama lengkap Mita Lia Sofiana itu tampak sumringah.
Di sela-sela aktivitas kerjanya sebagai pendamping sosial, Mita menjadi aktor di balik Rumah Kreasi Pelangi.
Sebuah sekolah alam ataupun taman baca masyarakat yang dirintisnya sejak 2018 silam.
Pihaknya menuturkan bahwa dharma tersebut dijalaninya setelah lulus dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang pada 2017 lalu.
Berada di antara kebun karet di Kecamatan Keling, Rumah Kreasi Pelangi menjadi warna cerah bagi kehidupan anak-anak dan pemuda setempat.
"Awal-awal saya merintis mengajak teman SD, serta kenalan yang bergabung dalam IPPNU. Dari situ kemudian banyak yang tertarik menjadi fasilitator dan membuat sejumlah agenda," ungkapnya kemarin.
Menurutnya bukan perkara mudah, membuat agenda sosial sekalipun hal itu tidak berbayar.
Mita bersama para volunteer atau relawan mulai membuat silabus atau kurikulum dalam pelaksanaan setiap agenda Rumah Kreasi Pelangi.
"Kami merasa prihatin lantaran di sini banyak orang tua dari anak-anak yang bekerja di pabrik ataupun serabutan. Sehingga pendampingan belajar anak-anak tidak maksimal," ujarnya.
Pergerakan Rumah Kreasi Pelangi semakin dikenal oleh khalayak umum, seiring dengan program-program unik yang jarang didapatkan para peserta didik di bangku sekolah.
Kurikulum yang ada dirumuskan dalam napas serta semangat bermain sambil belajar.
"Awalnya hanya satu dua yang tertarik, tapi lama-lama semakin banyak. Hingga puluhan," katanya.
Mita menyampaikan beberapa program yang ada di Rumah Kreasi Pelangi seperti pelatihan menanam apotek hidup, kelas tari, kelas sastra, maupun kelas profesi.
"Pada intinya kami belajar bersama hal-hal di luar pelajaran sekolah. Ya membuat kerajinan, menari hingga menanam tanaman untuk apotek hidup supaya dapat dikonsumsi sendiri," jelasnya.
Lebih lanjit diterangkan, pengenalan kelas profesi juga dilakukan dengan mendatangkan orang-orang dari berbagai kalangan dan latar belakang.
"Arsitek, psikolog, guru, atau polisi pengenalan dilakukan oleh volunteer ataupun rekanan. Kita ajak bermain bersama di alam, sembari belajar ilmu pengetahuan alam ataupun bahasa, sharing," jelasnya.
Kendati demikian, pihaknya juga memfasilitasi para anak yang memiliki pekerjaan rumah dari sekolah masing-masing.
"Les seminggu dua kali, baik les baca ataupun les mata pelajaran," ringkasnya.
Regenerasi yang ada juga dilakukan secara rapi, di mana setiap tahunnya dilakukan open recruitment.
Tak hanya dari pemuda setempat tapi juga kalangan dari luar desa maupun kecamatan.
Pendekatan berbasis alam dilakukan bukan tanpa alasan, diharapkan anak-anak juga memiliki sensitivitas akan cinta terhadap lingkungan hidup.
"Kebanyakan kegiatan kami outdoor, di alam terbuka. Sesekali kami juga mengunjungi wisata desa untuk baca puisi ataupun hal sejenis, termasuk latihan menari," katanya.
Tak hanya sampai di situ, para anak juga diajak untuk aktif bersosial hingga mengikuti berbagai perlombaan maupun festival secara kolektif.
Rumah Kreasi Pelangi sendiri juga telah memiliki izin operasional dari Disdikpora Kabupaten Jepara sejak 2019 lalu.
"Yang menjadi motivasi kami ialah, tak sedikit dari orangtua anak yang sibuk mencari nafkah hingga kurang memperhatikan putra-putrinya. Rumah Kreasi Pelangi ada sebagai teman bermain yang menyenangkan bagi anak, wadah bertumbuh kembang dengan atmosfer positif," sambungnya.
Perbedaan bukan menjadi penghalang dan hambatan.
Justru Mita memandang itu sebagai bentuk kekayaan sosial untuk saling berbagi pengalaman dan pengamalan.
"Di sini tergabung dari banyak kalangan, termasuk jenjang kelas anak. Tapi sebagaimana namanya (Pelangi, Red) keberagaman ini bakal indah," tegasnya.
Sekalipun telah berkeluarga sejal 2020 lalu, namun justru Mita mendapatkan pasangan yang supportif terhadap kerja-kerja sosial.
Bahkan kini pihaknya hanya menjadi pembina, sehingga para pemuda yang mengambil peran lebih banyak.
"Di sini banyak ladang, dekat sama hutan karet jadi banyak tempat bermain yang teduh. Amat mendukung mengenai muatan soal sekolah alam," ujarnya.
Pada bulan puasa pihaknya juga membuat program spesial, yakni Festival Ramadan yang berkeliling dari desa ke desa.
"Muter dari satu TPQ ke TPQ lainnya. Jadwalnya menyesuaikan kakak volunteer dan adik-adik. Ada berbagi takjil hingga kegiatan sejenis," tanggapnya.
Kini, Rumah Kreasi Pelangi juga telah bergabung di dalam Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kabupaten Jepara.
"Kami pernah juara dalam pembuatan video pembelajaran terbaik dalam Festival literasi Al-quran oleh FASCO Foundation. Termasuk video Mars Germas, yang mendapat juara 2 penyelenggara RSUD dr. Rehatta," terangnya.
Pihaknya berharap meskipun di tengah gempuran gadget dan internet, anak-anak di lingkungan sekitar memiliki alternatif yang menyenangkan dalam berteman serta bermain di taman.
"Karena tidak ada yang akan peduli dengan generasi emas dari desa kita, selain kita sendiri," pungkasnya menyiratkan pesan. (*)
Editor : Syaiful Amri