Jedoran dengan khas senggakan lantang langgam Jawa bercorak Islam itu, mencoba tetap eksis di etalase kebudayaan Blora. Di tengah modernisasi, eksistensi kesenian tersebut, mulai tergerus. Butuh generasi penerus.
ARIF FAKHRIAN KHALIM, Blora, Radar Kudus
SALAH satu grup Jedoran yang masih eksis saat ini, berada di Desa Talokwohmojo, Kecamatan Ngawen, Blora.
Sebelum modernisasi mulai menciptakan ruang digital, Jedoran di desa tersebut, masih berjumlah tujuh grup. Lambat laun, grup jedoran hanya tersisa satu.
”Dulu, di Talokwohmojo saja setiap dukuh memiliki grup Jedoran. Total ada tujuh grup, tapi sekarang tinggal satu grup," ungkap Mudaris, pelaku kesenian Jedoran Desa Talokwohmojo.
Pria berusia 53 tahun itu, masih terus menyemai kesenian Jedoran hingga saat ini. Kecintaannya pada kesenian yang memakai alat bedug yang ditabuh itu, membuatnya masih teguh menekuni kesenian yang belum digemari kalangan muda.
Alasan kuat yang mendasari, karena kesenian jedoran menemaninya sejak kecil.
”Saya merupakan generasi kelima yang belajar Jedoran sejak kecil,” ungkap pria kelahiran 1971 tersebut.
Untuk mebawakan kesenian Jedoran itu, membutuhkan keterampilan khusus. Terutama dalam teknik vokal.
Napas yang panjang dan suara yang lantang untuk membuahkan suara yang sesuai dengan pakem kesenian jedoran.
”Untuk Jedoran, harus punya napas panjang, karena vokalnya harus ngelik atau bersuara keras dan panjang,” ungkapnya.
Sayangnya, saat ini anak muda di desa kelahirannya belum tertarik menekuni kesenian Jedoran.
Mudaris mengungkapkan, pemainnya kebanyakan orang tua.
”Anak muda tampaknya kurang tertarik untuk belajar," katanya.
Mudaris mengungkapkan, dalam satu grup Jedoran biasanya terdiri dari 10 hingga 12 pemain.
Lagu-lagu yang dibawakan pun juga sudah terpakem. Biasanya berisi salawat atau kisah Walisongo, seperti ”Ya Qoluu Syaikhuna". Salah satu syair seperti kitab manaqib.
”Tiap lagu dimainkan selama lima sampai 15 menit. Tergantung durasi ceritanya," jelasnya.
Grup Jedoran yang digelutinya hanya tampil saat ada acara. Beruntung, pada momen akhir tahun lalu, ada agenda Ngawen Traditional Festival.
Baginya, hal itu menjadi angin segar untuk memperkenalkan kesenian tradisional yang sudah dilakoni masyarakat desa sejak dahulu.
”Saya berharap akan muncul kesadaran baru di kalangan anak muda Blora untuk turut melestarikan Jedoran,” ungkapnya penuh harap.
Menurutnya, jika generasi muda turut menyemarakkan dan latihan kesenian Jedoran, akan menggeliatkan lagi kesenian tersebut.
”Jika anak muda mau belajar, saya yakin Jedoran bisa bangkit lagi," ujarnya.
Ketua Panitia Ngawen Tradisional Festival 2024 Muhamad Adib mengatakan, event ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menghidupkan lagi minat generasi muda terhadap seni tradisional.
”Kami ingin kesenian Jedoran ini, tidak hanya dikenal, tetapi juga diminati oleh anak muda. kami memberi ruang bagi seni tradisional, agar tetap lestari," katanya.
Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi antara generasi tua dan muda untuk melestarikan seni Jedoran.
”Agar di tengah modernisasi saat ini tak sekadar menjadi sejarah, tetapi juga bagian dari masa depan budaya kita," harapnya. (*/lin)
Editor : Achmad Ulil Albab