RADARPATI.ID - Syahrial Aman berhasil mendirikan galeri kerajinan tangan di Desa Karangrejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati.
Galeri itu ia beri nama Syam’s Indonesian Handicraft. Sekitar 300-an karyawan dari masyarakat sekitar berhasil ia berdayakan.
Andre Faidhil Falah, Radar Kudus, Pati
Baca Juga: Jadi Pramugari PT KAI, Ini yang Kerap Dihadapi Sosok Rindita asal Grobogan
PENDIRI sekaligus CEO Syahrial Aman menunjukkan koleksi tas anyaman berwarna-warni itu di kediamannya Desa Karangrejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati.
Hasil kerajinan itu merupakan karya ibu-ibu di sekitar Juwana.
Pria berusia 38 tahun itu memperlihatkan bagaimana ibu-ibu itu membuat anyaman.
Mulai merajut hingga merapikan tas yang telah selesai dianyam. Tak hanya ibu-ibu, beberapa kalangan milenial juga ikut.
Mereka semua bekerja tidak di kantor atau gudang milik Syam. Melainkan di rumah masing-masing.
”Jadi bebas. Biasanya tiap hari mereka kirim ke saya beberapa tas,” ujarnya.
Tas-tas ini dibuat dari bahan baku yang tidak biasa. Yaitu limbah plastik yang didaur ulang.
Produk-produk Syam dibuat dari limbah plastik jenis LLDPE yang didaur ulang.
Penggunaan bahan ini tak hanya menciptakan produk cantik, tetapi juga membantu melestarikan lingkungan.
”Kami ingin menjadikan limbah plastik yang semula tak bernilai menjadi produk elegan dan unik. Selain itu, produk kami awet hingga bertahun-tahun,” katanya.
Setiap bulan, Syam’s Indonesian Handicraft mampu memproduksi hingga 5.000 tas anyaman yang dipasarkan ke berbagai negara, seperti Jepang, Singapura, Brunei, Malaysia, Tiongkok, Amerika, Rusia, dan negara-negara Eropa.
Syam menyebut, pihaknya memiliki kerja sama intens dengan pelanggan dari Jepang, dengan pengiriman rutin 400-500 tas per minggu.
Untuk mendukung pemasaran, Syam memanfaatkan pasar lokal dan media sosial seperti Shopee, TikTok, dan Instagram.
Produk-produk mereka dijual dengan harga mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 200 ribuan, tergantung jenisnya.
Produk yang dihasilkan ada dompet, handbag, hingga tas travel dan koper.
Selain memproduksi tas anyaman, Syam’s Indonesian Handicraft juga menyediakan wisata edukasi untuk pelajar.
Program itu bertujuan mengenalkan proses pembuatan tas anyaman sekaligus memberikan wawasan tentang manajemen usaha dan kewirausahaan.
Tak berhenti di situ, Syam terus mengembangkan inovasi, termasuk pembuatan kursi dari bahan anyaman yang dikombinasikan dengan kayu atau aluminium.
”Kami ingin terus berinovasi agar produk kami semakin beragam dan mampu bersaing di pasar global,” pungkasnya.
Dengan semangat pemberdayaan dan inovasi, Syam’s Indonesian Handicraft tidak hanya mengubah limbah menjadi produk bernilai, tetapi juga memberikan dampak sosial yang positif bagi masyarakat sekitarnya.
Dia memberdayakan ibu rumah tangga untuk menganyam berbagai tas. Di rumah masing-masing mereka membuat tas anyaman itu.
Sebelumnya pemberdayaan masyarakat diawali dengan pelatihan bagi ibu-ibu rumah tangga di daerah.
”Saya memang memberdayakan masyarakat sekitar. Mereka menganyam tas di rumah masing-masing,” terangnya.
Produk tas anyaman ini merupakan hasil tangan terampil para perempuan di sekitar desanya, termasuk ibu rumah tangga dan buruh tani.
Hingga kini, sekitar 300 perempuan telah diberdayakan melalui program itu.
Mereka mendapatkan pelatihan untuk menganyam dan menjadikan aktivitas ini sebagai sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.
Syam’s Indonesian Handicraft adalah usaha sociopreneur yang fokus pada pemberdayaan masyarakat.
”Kami ingin menciptakan dampak sosial melalui produk kerajinan tangan, terutama tas anyaman. Dengan melibatkan para ibu rumah tangga dan buruh tani, kami membantu mereka mendapatkan penghasilan tambahan,” ujar Syam, yang juga dosen Teknik Industri di Universitas Muhammadiyah Kudus.
Awalnya dia hanya punya 3-5 karyawan saja. Itu pun didapat dari tempat ia menjadi reseller. Dari sana dia menggaet masyarakat setempat.
”Saya kasih mereka fee bagi yang bisa melatih ibu-ibu untuk menganyam. Akhirnya mereka tertarik dan sekarang sudah menjadi 350-an orang,” jelasnya.
Sebelum mendirikan Syam’s Indonesian Handicraft pada 2019, Syahrial Aman telah mengalami berbagai jatuh bangun dalam dunia bisnis.
Ia pernah menekuni usaha jual beli rempah-rempah, kuliner kaki lima, hingga menjual alat elektronik.
Dengan tekad yang kuat, doa, dan niat baik untuk membawa manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar, Syam berhasil mengembangkan usahanya hingga meraih berbagai pencapaian.
Baru-baru ini, pada 22 November 2024, perusahaannya, CV Syam Indonesian Handicraft, dianugerahi penghargaan sebagai UMKM Terproduktif 2024 kategori craft/furniture oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah. (*/zen)
Editor : Abdul Rochim