Maulina Hikmatus Saadah bermula mimpi kuliah di luar negeri terinspirasi buku Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi.
Mimpi itu jadi kenyataan. Ia telah berkuliah di Turki. Dan kini, bekerja di Polandia.
OLEH: FIKRI THOHARUDIN, Pati, Radar Kudus
MATA perempuan yang akrab disapa Maul berbinar, saat menceritakan awal mula perjalanannya kuliah di negara Turki.
Pemilik nama lengkap Maulina Hikmatus Saadah asal Pati ini tak pernah menyangka apabila mimpi besarnya untuk menimba ilmu di luar negeri dapat tercapai.
Muda, penuh gairah, dan tekun ialah kata-kata yang pantas disandang oleh perempuan 26 tahun tersebut.
Bagaimana tidak, meskipun berasal dari desa, dirinya tak goyah dalam merawat mimpi yang telah ia inginkan sejak duduk di bangku kelas II Madrasah Tsanawiyah Madarijul Huda Kembang, Kecamatan Dukuhseti.
Keinginan untuk merambah ke Turki berawal dari perkenalannya dengan buku Negeri 5 Menara karya .
Maul menemukan buku tersebut di perpustakaan sekolahnya. Setelah membaca tuntas, mimpi-mimpi dalam kondisi mata terbuka lebar itu terus bermunculan.
"Dari situ mulai memberanikan diri untuk bilang ke orang tua. Setelah lulus MTs mau melanjutkan sekolah ke Gontor. Kemudian direstui dan masuk tahun 2013-2017, ditambah pengabdian mengajar di Gontor Putri tahun 2017-2018," ungkapnya pada Sabtu (27/7).
Di tahun-tahun terakhir di Gontor itulah, Maul berpikir keras mau melanjutkan kuliah di mana. Lalu dirinya berusaua mencari informasi-informasi beasiswa kuliah di Turki.
Turki menjadi negara yang paling diinginya sebab Maul terpukau dengan kekayaan budaya maupun kegemilangan sejarah.
Seperti riwayat Muhammad Al Fatih saat menaklukan Konstantinopel.
"Setelah mencari informasi, ternyata ada Turkiye Bursları Scholarship (YTB). Saya terus mencari informasi tersebut, seperti siapa saja yang bisa menerima, tak lupa bertanya terhadap yang pernah mendapatkan beasiswa tersebut, hingga akhirnya saya mendaftar," tuturnya.
Keadaan bimbang menggelayuti Maul lantaran proses seleksi yang panjang.
Padahal di sisi lain penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di tanah air juga tengah berlangsung.
Tak kurang akal, Maul juga mendaftarkan diri di PTN supaya apabila tidak diterima beasiswa dirinya tetep bisa berkuliah.
Tak tanggung-tanggung Maul diterima di Universitas Gajah Mada (UGM) jurusan filsafat di tahun 2018.
"Sempat masuk di UGM tapi tidak sampai satu bulan, hanya ikut Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) atau ospek. Lalu masuk kelas selama satu minggu," kenangnya.
Pada saat itu, harapan kembali mekar. Maul menerima pesan di Email kesediaan melakukan wawancara di Jakarta terkait dengan penerimaan beasiswa YTB.
"Tak berselang lama usai interview, ternyata lolos. Kemudian bertolak dari UGM ke Selcuk University jurusan jurnalistik fakultas komunikasi. 2018-2019 mengikuti kelas bahasa Turki, baru menjalani kuliah dari 2019 hingga lulus tahun 2023," jelasnya.
Di masa-masa sebelum kelulusan, Maul sempat mengikuti program Erasmus untuk pertukaran pelajar sekaligus magang.
"Singkat cerita diterima, awalnya mau ke Italia, tapi karena pengurusan visa susah akhirnya ke Polandia. Saat kontrak mau habis tapi malah ditawari untuk bekerja full time. Jadi hingga saat ini saya kerja di sini (Polandia, Red) di WhitePress," terangnya.
Pengalaman berkesan ini menurut Maul tak luput dari doa dan restu orang tua. Pihaknya mengamini bahwa di antaranya doa yang mustajab ialah dari bapak terutama sang ibu.
"Saya sendiri selalu mempercayai mimpi, man jadda wa jadda. Kalau ada sesuatu yang diinginkan saya percaya bisa meraih itu asal berusaha dengan sungguh-sungguh. Karena bayangan tersebut tidak sembarangan Allah datangkan kepada kita," catatnya.
Selama beberapa tahun ke depan, Maul berencana untuk berkarir di beberapa negara, terutama di Benua Eropa.
Namun pihaknya juga berharap bisa pulang ke tanah kelahiran untuk mewujudkan mimpi-mimpi lainnya.
"Saya ingin membuat semacam platform, khususnya bagi orang-orang Pati terkait dengan informasi beasiswa maupun peluang bersekolah di tempat yang bagus," ucapnya.
Hal itu diharapkan lantaran, Maul merasa bagi putra-putri daerah perlu didukung oleh lingkungan untuk terus belajar dan berkarya.
Atau setidaknya memiliki kesempatan yang sama seperti pembelajar di kota-kota besar lainnya.
Impian ini selalu saya bawa, ke manapun. Untuk suatu saat bisa support di bidang pendidikan.
"Supaya pendidikan lebih merata dan terjangkau dan semua orang bisa merasakannya. Mau gak mau kunci kita semua untuk bisa memperbaiki kehidupan pondasi dasarnya harus dilewati dengan pendidikan," tegasnya.
Maul hanya berpesan untuk meraih mimpi itu bukan sebuah hal yang mustahil. Seperti halnya untuk sekadar kuliah di luar negeri.
"Impian haruslah tetap menyala dengan apapun yang kita miliki, meskipun itu tidak sempurna, meskipun itu retak-retak," tutup Maul sembari mengutip kalimat dari novel Ibuk, karya Iwan Setyawan. (*/him)
Editor : Abdul Rochim