RADARPATI.JAWAPOS.COM - Penelusuran terkait tautan atau link "video viral" yang mengaitkan selebgram asal Banyuwangi, Bilqis Luvena Danendra, marak dicari oleh pengguna media sosial.
Setelah ditelusuri berdasarkan konteks unggahan aslinya, fenomena tersebut bersumber dari konten parodi berdurasi 27 detik milik sang kreator.
Baca Juga: FULL Link Video 27 Detik Miss Cendut, Bilqis Banyuwangi
Bilqis—yang dikenal publik lewat julukan Miss Cendut—merupakan kreator digital asal Jawa Timur dengan basis pengikut cukup besar.
Akun TikTok miliknya tercatat memiliki lebih dari 500 ribu pengikut, sementara akun Instagram pribadinya (@bilqisluvv_) telah menjaring sekitar 149 ribu pengikut.
Jangkauan audiens yang luas membuat berbagai unggahan harian Bilqis konsisten meraih angka penayangan tinggi di linimasa.
Penjelasan di Balik Konten Berdurasi 27 Detik
Berdasarkan penelusuran pada unggahan sumber asli, video yang diperbincangkan publik tersebut merupakan bagian dari tren kreasi digital yang memanfaatkan sampel suara (sound) dari serial web Tiba-Tiba Brondong.
Audio tersebut berasal dari potongan dialog adegan yang dibintangi oleh Tatjana Saphira dan Fadi Alaydrus.
Bilqis memparodikan adegan tersebut dengan memerankan karakter Bella yang diperankan Tatjana Saphira, memanfaatkan teknik lipsync serta penyesuaian ekspresi wajah dan gestur khas konten hiburan.
Baca Juga: Viral Link Full Video 27 Detik Bilqis Banyuwangi di Tiktok dan X
Popularitas audio yang tengah berada di puncak tren TikTok, dipadukan dengan basis pengikut Bilqis yang masif, menjadi faktor utama video parodi tersebut dengan cepat menyebar dan diunggah ulang (repost) oleh berbagai akun lain.
Saring Informasi dan Cermati Konteks Asli
Penyebaran ulang potongan video secara terpisah di platform media sosial kerap menghilangkan konteks awal dari sebuah unggahan.
Fenomena ini berpotensi memicu salah penafsiran di tengah publik jika informasi hanya didasarkan pada judul naratif atau potongan gambar di luar sumber aslinya.
Masyarakat dan pengguna jejaring digital diimbau untuk lebih cermat serta selalu memverifikasi informasi langsung ke akun sumber resmi.
Memahami konteks awal sebuah konten sangat penting untuk mencegah kesalahpahaman dan menghindari paparan misinformasi di ruang digital. (*)
Editor : Zakarias Fariury