RADARPATI.ID — Dunia media sosial tengah diguncang oleh fenomena mengejutkan.
Facebook Pro, yang sebelumnya menjadi platform favorit para pembuat konten, kini mulai ditinggalkan oleh banyak kreator.
Penyebabnya tak lain adalah perubahan sistem monetisasi yang dinilai membingungkan dan tidak transparan.
Isu ini tengah hangat diperbincangkan di berbagai forum daring dan grup diskusi.
Warganet dan para kreator aktif pun turut menyoroti perubahan drastis tersebut.
Banyak yang mengungkapkan kekecewaan terhadap sistem monetisasi terbaru yang kini berbasis undangan eksklusif, bukan lagi berdasarkan statistik seperti jumlah pengikut atau jam tayang.
Dulu, Facebook Pro dikenal cukup ramah bagi kreator.
Syarat monetisasi yang jelas membuat mereka termotivasi untuk terus berkarya.
Namun sejak awal 2025, sistem berubah total. Kini, hanya akun tertentu yang menerima undangan untuk monetisasi, tanpa penjelasan kriteria yang pasti.
“Padahal kami aktif, interaksi tinggi, dan rutin membuat konten,” keluh salah satu kreator.
Ia mengaku heran karena meski memenuhi syarat-syarat umum yang dulu berlaku, fitur monetisasi tak kunjung muncul.
Ironisnya, ada akun lain yang dinilai kurang aktif justru mendapat undangan tersebut.
Ketidakjelasan ini memicu rasa frustasi di kalangan kreator. Banyak yang merasa tidak dihargai atas upaya dan konsistensi mereka.
Perlahan tapi pasti, semangat untuk terus berkarya di Facebook Pro pun menurun.
Akhirnya, keputusan meninggalkan platform pun diambil. TikTok dan YouTube menjadi pelabuhan baru bagi para kreator.
Kedua platform itu dianggap lebih transparan dan memiliki sistem monetisasi yang mudah dipahami.
Banyak kreator mengaku lebih merasa dihargai dan mendapatkan kepastian di sana.
Kepindahan massal ini menjadi pukulan telak bagi Facebook Pro.
Platform yang dulunya menjadi primadona kini kehilangan daya tarik.
Ketika kreator pergi, konten berkualitas pun ikut menghilang.
Dampaknya dirasakan langsung oleh pengguna, yang kehilangan hiburan menarik dari para pembuat konten favorit mereka.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya transparansi dan keadilan dalam sistem monetisasi. Kreator adalah aset utama dalam ekosistem digital.
Jika mereka tidak dihargai, mereka akan mencari “rumah” baru yang memberi kepastian dan penghargaan yang layak.
Masa depan Facebook Pro kini mulai dipertanyakan.
Jika tidak segera melakukan pembenahan, platform ini berisiko ditinggalkan sepenuhnya oleh komunitas kreator yang pernah membesarkannya. (amr)
Editor : Syaiful Amri