BLORA – Kenaikan harga cabai rawit hingga mencapai Rp 85 ribu per kilogram mulai dirasakan pelaku usaha kuliner di Kabupaten Blora.
Salah satunya usaha ayam geprek yang harus menyesuaikan harga jual karena cabai menjadi bahan utama sambal.
Manajer Outlet Geprek 45 Blora Reza Listianto mengatakan, cabai memiliki peran penting dalam menu yang dijual.
Terlebih, sambal bawang menjadi salah satu menu terlaris di outlet tersebut.
Baca Juga: Sosok Remaja Blora Ini Pulihkan Tanah Tercemar Minyak dengan Olah Sabut Kelapa dan Serbuk Kayu Jati
“Cabai ini salah satu bahan penting di Geprek 45, khususnya karena bestseller kami ada di sambal bawang. Bahan utamanya cabai setan, jadi sangat berpengaruh,” ujar Reza.
Ia menyebut harga cabai yang sebelumnya hanya sekitar Rp 45 ribu per kilogram naik bertahap hingga Rp 85 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut membuat manajemen melakukan penyesuaian harga sejak awal Oktober.
Salah satu paket ayam yang sebelumnya dijual Rp 16 ribu kini menjadi Rp18 ribu.
Penyesuaian juga dilakukan pada sejumlah menu lain yang menggunakan cabai, seperti sambal matah dan sambal deda.
“Terpaksa menaikkan harga jual. Di awal Oktober kami rapat untuk menentukan harga jual dan akhirnya semua ada kenaikan,” jelasnya.
Meski harga menu mengalami kenaikan, penjualan hingga kini masih relatif stabil.
Menurut Reza, daya beli masyarakat masih dapat menerima harga menu yang berada di bawah Rp 20 ribu.
Dalam sehari, Geprek 45 Blora rata-rata menjual 300 hingga 350 porsi menu ayam.
Jumlah tersebut belum termasuk penjualan dimsum, minuman, makanan ringan, dan mi instan.
Namun, Reza mengkhawatirkan dampaknya jika harga cabai terus melonjak hingga menembus Rp 100 ribu per kilogram.
Pelaku usaha berpotensi kembali menaikkan harga jual yang dikhawatirkan berdampak terhadap omzet.
“Kalau kenaikan ini terus berlanjut sampai di atas Rp 100 ribu, mungkin akan berpengaruh ke harga jual kami yang harus naik lagi. Kalau sudah sampai Rp 20 ribu ke atas untuk paket ayam, mungkin akan berpengaruh ke omzet penjualan,” ungkapnya.
Menurut Reza, kenaikan harga dipilih untuk mempertahankan kualitas makanan.
Pihaknya tidak ingin mengurangi porsi sambal maupun menurunkan kualitas bahan yang digunakan.
“Kami sudah mempertimbangkan itu. Untuk menjaga kualitas dan standar penyajian, kami memilih opsi menaikkan harga daripada menurunkan kualitas atau standar yang ada,” katanya.
Pihaknya masih memantau perkembangan harga cabai. Jika harga kembali naik, penyesuaian harga jual menjadi salah satu opsi yang akan dipertimbangkan.
“Kami berharap tentunya harga cabai bisa kembali normal,” pungkasnya. (ari)
Editor : Abdul Rochim