Ekonomi Kudus Melambat, Aktivitas Industri dan Pariwisata Jadi Sorotan BPS

Sastra Muria • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 17:44 WIB
Kepala BPS Kabupaten Kudus Eko Suhartono saat memaparkan perkembangan ekonomi dan inflasi Kabupaten Kudus. Industri pengolahan masih menjadi sektor dominan dalam perekonomian Kudus.
Kepala BPS Kabupaten Kudus Eko Suhartono saat memaparkan perkembangan ekonomi dan inflasi Kabupaten Kudus. Industri pengolahan masih menjadi sektor dominan dalam perekonomian Kudus. (Salma Fitriani/Magang/Radar Kudus)

KUDUS - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus menyoroti perkembangan ekonomi daerah yang dipengaruhi sejumlah sektor, mulai dari industri pengolahan, konsumsi masyarakat, hingga aktivitas pariwisata.

Kepala BPS Kabupaten Kudus Eko Suhartono mengatakan, perubahan harga sejumlah komoditas dan kelompok pengeluaran turut memengaruhi pergerakan inflasi di Kabupaten Kudus.

Berdasarkan data BPS, Kudus mengalami inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,30 persen pada Agustus 2026.

Sementara inflasi year-to-date (y-to-d) tercatat 1,73 persen dan year-on-year (y-on-y) sebesar 2,99 persen.

Menurut Eko, beberapa kelompok pengeluaran memberikan andil terhadap inflasi. Di sisi lain, terdapat kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi sehingga ikut menahan laju inflasi.

“Dari kelompok pengeluarannya akan kita lihat,” ujar Eko dalam pemaparan perkembangan ekonomi Kudus.

Selain inflasi, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kudus pada 2025 mencapai 0,98 persen.

Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada 2024 yang mencapai 2,83 persen.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi sektor yang dominan dalam perekonomian Kudus.

Pada 2025, sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 76,35 persen terhadap struktur ekonomi daerah.

Eko juga menyoroti aktivitas pariwisata yang turut menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat.

Sejumlah agenda yang digelar di Kudus dinilai dapat mendorong aktivitas ekonomi, terutama melalui peningkatan kunjungan dan mobilitas masyarakat.

Beberapa kegiatan yang berlangsung antara lain agenda pariwisata, kegiatan peringatan kemerdekaan, kompetisi olahraga, hingga kegiatan yang digelar di kawasan Muria.

Aktivitas tersebut juga berkaitan dengan sektor akomodasi.

BPS mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kabupaten Kudus pada Juli 2026 mencapai 35,43 persen. Sementara TPK gabungan hotel tercatat 30,83 persen.

Perkembangan ekonomi Kudus selanjutnya akan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perubahan harga komoditas, aktivitas industri, konsumsi masyarakat, dan kegiatan pariwisata.

Eko menekankan perlunya kolaborasi berbagai sektor untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pengendalian inflasi di Kabupaten Kudus

Baca Juga: Tak Semua Pekerja Dapat BSU, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi

Editor : Abdul Rochim
pariwisata Kudus inflasi Kudus 2026 industri pengolahan Kudus ekonomi kudus bps kudus