RADAR PATI – Pemkab Blora menyiapkan langkah untuk memperluas pasar beras organik hasil produksi petani lokal. S
alah satunya dengan mendorong kewajiban pembelian dan penggunaan beras organik bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) eselon II.
Bupati Blora Arief Rohman menyampaikan rencana tersebut saat menghadiri kegiatan Dosen Pulang Kampung IPB University di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, Minggu (11/10/2026).
Menurut Arief, keterlibatan ASN diharapkan bisa menjadi salah satu cara memperkuat pemasaran sekaligus meningkatkan nilai ekonomi beras organik yang dihasilkan petani Blora.
Baca Juga: Pencari Kerja di Blora Melonjak pada April 2026, Ini Negara-Negara Tujuan Kerja
"ASN nanti untuk yang eselon II kita dorong untuk wajib membeli dan menggunakan beras organik dari para petani kita," ujarnya.
Tak hanya menyasar ASN, Pemkab Blora juga berencana memperluas penggunaan beras organik di lingkungan rumah sakit daerah.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah menyediakan makanan berbahan beras organik bagi pasien kelas VIP.
"Nanti saya akan coba di RSUD, khususnya untuk pasien VIP, makanannya dari beras organik," kata Arief.
Pemkab Blora juga telah berupaya menjajaki kerja sama dengan badan usaha milik negara (BUMN) untuk mendukung pengembangan komoditas tersebut.
Salah satu peluang yang dilirik adalah melalui jaringan industri ID FOOD.
Desa Gondel Disiapkan Jadi Sentra Organik
Arief menilai Desa Gondel memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat pertanian organik di Kabupaten Blora.
Potensi sumber daya dan kemampuan petani setempat dinilai menjadi modal untuk mengembangkan komoditas tersebut.
Namun, pengembangan beras organik tidak cukup hanya mengandalkan produksi.
Petani juga perlu mendapatkan pendampingan terkait pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran agar produk mampu bersaing dan menjangkau konsumen lebih luas.
"Desa Gondel ini, selain memiliki sumber daya yang bagus, masyarakat petaninya juga punya potensi di bidang organik," ujarnya.
Pemkab Blora turut membuka peluang pemberian beasiswa bagi putra-putri daerah yang ingin menempuh pendidikan di bidang pertanian di IPB University.
Program tersebut diharapkan mampu menyiapkan sumber daya manusia yang dapat mengembangkan potensi pertanian di daerah asalnya.
Arief menegaskan, penerima beasiswa nantinya diharapkan kembali ke kampung halaman untuk mengelola dan mengembangkan sektor pertanian di desa masing-masing.
"Syaratnya harus pulang ke kampung halaman untuk bisa mengelola tanah di desanya," tegasnya.
IPB Bantu Perluas Pasar Beras Organik
Sementara itu, Ketua Tim Dosen Pulang Kampung IPB University di Blora, Prof. Bayu Krisnamurthi, menyatakan kesiapan timnya untuk mendampingi petani dalam mengembangkan produk beras organik sekaligus memperluas jaringan pemasaran.
Menurut Bayu, peluang pasar produk organik terbuka lebar seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas pangan dan kesehatan.
"Ke depan, permintaan produk organik akan sangat besar. Kesadaran akan kesehatan akan mendorong kebutuhan terhadap produk organik," katanya.
Dalam program pendampingan tersebut, tim IPB mengidentifikasi dua potensi usaha di Desa Gondel.
Selain memperluas pemasaran beras organik, petani juga didorong mengembangkan produk media tanam organik yang berpotensi memberikan tambahan nilai ekonomi.
Pengembangan kedua produk itu akan melibatkan mahasiswa melalui skema Capstone atau Kuliah Praktik Terpadu.
Mahasiswa nantinya membantu petani menyusun strategi pengembangan produk, merancang pemasaran, serta menjajaki peluang kemitraan usaha.
Melalui kolaborasi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan petani, pengembangan beras organik di Blora diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu membuka akses pasar yang lebih luas dan meningkatkan pendapatan petani. (ari)
Editor : Abdul Rochim