Sosok Remaja Blora Ini Pulihkan Tanah Tercemar Minyak dengan Olah Sabut Kelapa dan Serbuk Kayu Jati

Abdul Rochim • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 19:54 WIB
‎BUATAN: Dua siswi SMAN 1 Blora, Atailla Marsya Putri Sigita dan Rosavia Putri Hartati, berhasil membawa pulang Medali Perunggu dalam ajang bergengsi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. (‎ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR PATI)
‎BUATAN: Dua siswi SMAN 1 Blora, Atailla Marsya Putri Sigita dan Rosavia Putri Hartati, berhasil membawa pulang Medali Perunggu dalam ajang bergengsi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. (‎ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR PATI)

BLORA — Persoalan pencemaran tanah akibat aktivitas pengeboran minyak tradisional di Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi.

Dua siswi SMAN 1 Blora, Atailla Marsya Putri Sigita dan Rosavia Putri Hartati, mengolah keresahan tersebut menjadi penelitian yang berhasil meraih Medali Perunggu dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026.

Keduanya menciptakan Terra Guard, inovasi berbasis green technology yang memanfaatkan sabut kelapa, arang, dan serbuk kayu jati sebagai bioadsorben untuk membantu proses remediasi tanah pertanian yang tercemar minyak mentah.

Baca Juga: Harga Cabai Merah Naik 100 Persen, Pedagang Pasar Sido Makmur Blora Kelimpungan

“Kami memanfaatkan sabut kelapa, arang, dan serbuk kayu jati sebagai bioadsorben untuk membantu proses remediasi tanah pertanian yang tercemar minyak mentah,” ujar Atailla dan Rosavia.

Penelitian tersebut dituangkan dalam karya berjudul “Pemanfaatan Sabut Kelapa (Cocos nucifera L.), Arang, dan Serbuk Kayu Jati (Tectona grandis L.f) sebagai Bioadsorben Berbasis Green Technology dalam Remediasi Tanah Pertanian Tercemar Minyak Mentah di Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora.”

Ide tersebut berangkat dari kondisi lingkungan yang mereka lihat di sekitar aktivitas pengeboran minyak tradisional.

Alih-alih hanya mengamati persoalan pencemaran, keduanya mencoba mencari alternatif penanganan dengan memanfaatkan material yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

“Kami ingin memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar untuk menjadi solusi terhadap persoalan lingkungan, khususnya pencemaran tanah akibat minyak mentah,” kata mereka.

Perjalanan Terra Guard menuju kompetisi tingkat nasional dimulai pada Maret 2026. Saat itu, Atailla dan Rosavia menyusun proposal penelitian untuk mengikuti OPSI 2026.

Proposal tersebut kemudian melewati tahapan seleksi. Sebulan berikutnya, Terra Guard dinyatakan lolos ke tahap kedua. Kelolosan tersebut menjadi awal bagi keduanya untuk melakukan serangkaian eksperimen dan pengujian.

Berbagai tahapan dilakukan, mulai dari uji filtrasi bioadsorben hingga pengukuran kadar Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) pada sampel tanah. Untuk memperoleh data yang lebih akurat, pengujian laboratorium juga melibatkan Universitas Veteran Yogyakarta.

“Setelah proposal lolos, kami melanjutkan dengan berbagai eksperimen dan pengujian untuk mengetahui efektivitas Terra Guard terhadap tanah yang tercemar minyak mentah,” ujar keduanya.

Kerja penelitian berlanjut hingga September 2026. Terra Guard akhirnya dinyatakan lolos sebagai finalis OPSI 2026.

Kesempatan tersebut membawa Atailla dan Rosavia ke Jakarta. Di hadapan dewan juri tingkat nasional, keduanya mempresentasikan penelitian yang berangkat dari persoalan lingkungan di daerah asalnya.

Kerja keras selama berbulan-bulan kemudian membuahkan hasil. Terra Guard berhasil membawa pulang Medali Perunggu OPSI 2026.

“Kami bersyukur Terra Guard bisa mendapatkan Medali Perunggu. Ini menjadi pengalaman sekaligus motivasi bagi kami untuk terus melakukan penelitian dan inovasi,” kata mereka.

Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi SMAN 1 Blora sekaligus menunjukkan bahwa persoalan lingkungan di tingkat lokal dapat dikembangkan menjadi penelitian yang mendapat apresiasi di tingkat nasional.

Terlebih, bahan yang digunakan dalam Terra Guard relatif mudah ditemukan.

Sabut kelapa, arang, dan serbuk kayu jati dimanfaatkan sebagai bahan utama bioadsorben, kemudian dikembangkan melalui pendekatan ilmiah untuk membantu proses remediasi tanah pertanian yang tercemar minyak mentah.

“Kami berharap inovasi ini tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi juga bisa dikembangkan dan memberikan manfaat dalam penanganan pencemaran tanah,” ujar Atailla dan Rosavia.

Bagi keduanya, Terra Guard menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sesuatu yang rumit.

Persoalan yang ditemui di lingkungan sekitar pun dapat menjadi titik awal lahirnya gagasan penelitian dan solusi yang bernilai. (*/him)

Editor : Abdul Rochim
OPSI 2026 SMAN 1 Blora Terra Guard pencemaran tanah Blora penelitian siswa