BLORA – Sistem penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan model prasmanan mulai diuji coba di Kabupaten Blora.
SPPG Ngawen 1 menjadi salah satu percontohan untuk skema baru tersebut.
Uji coba dilaksanakan di SDN 5 Ngawen. Dalam sistem ini, siswa tidak lagi menerima makanan dengan porsi yang sepenuhnya ditentukan.
Mereka dapat mengambil sendiri makanan sesuai kebutuhan porsinya.
Baca Juga: BGN Uji Coba MBG Sistem Prasmanan di Kelas
Pilot project tersebut dihadiri Bupati Blora Arief Rohman dan Wakil Bupati Blora Sri Setyorini yang juga menjabat Ketua Satgas MBG Blora.
Korwil MBG Blora Artika menjelaskan, penerapan sistem prasmanan merupakan arahan Deputi Sistem dan Tata Kelola.
Berdasarkan nota dinas tertanggal 30 September, terdapat 42 SPPG di Indonesia yang ditunjuk untuk menjalankan uji coba tersebut.
“Penunjukan dari pusat. Uji coba selama dua minggu, setelah itu hasilnya kami laporkan ke BGN,” jelasnya.
Artika mengatakan tidak ada ketentuan khusus mengenai menu yang harus disajikan dalam skema prasmanan.
Setiap dapur SPPG dapat menyesuaikan menu yang disediakan.
Ketua Satgas MBG Blora Sri Setyorini menilai model prasmanan memberikan kenyamanan lebih bagi penerima manfaat.
Siswa dapat menyesuaikan porsi makanan dengan kebutuhan masing-masing.
“Kelihatannya lebih nyaman karena porsinya sesuai yang diinginkan. Penerima manfaat juga bisa mengambil sendiri,” ujarnya.
Menurut Sri, komposisi dan kecukupan gizi tetap menjadi perhatian dalam penerapan sistem tersebut. Berdasarkan pemantauan awal, takaran gizi dalam menu yang disajikan dinilai sudah seimbang.
Sistem prasmanan juga memungkinkan makanan dikonsumsi dalam kondisi lebih hangat karena siswa mengambil makanan secara langsung.
Uji coba dijadwalkan berlangsung selama dua pekan. Setelah itu, pelaksanaan akan dievaluasi dan hasilnya dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Jika hasil evaluasi menunjukkan sistem berjalan baik, skema MBG prasmanan akan diusulkan untuk diterapkan secara lebih luas.
Mitra SPPG Ngawen 1 Febrian Candra mengatakan konsep tersebut terinspirasi dari sistem makan di Jepang atau Kyushoku.
Menurutnya, penerapan prasmanan tidak hanya berkaitan dengan penyajian makanan, tetapi juga dapat menjadi sarana melatih kedisiplinan, kebersihan, dan tanggung jawab siswa.
“Harapannya makanan yang diterima siswa masih hangat dan segar karena mereka bisa terlibat langsung untuk mengambil sendiri,” ujarnya. (tos)