1.000 Penari bakal Meriahkan Blora Culture Festival 2026 di Goa Terawang

Abdul Rochim • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 07:31 WIB
MERIAH: Penampilan para penari pada Blora Culture Festival pada tahun 2025 lalu. (DINPORABUDPAR UNTUK RADAR PATI)
MERIAH: Penampilan para penari pada Blora Culture Festival pada tahun 2025 lalu. (DINPORABUDPAR UNTUK RADAR PATI)

BLORA – Blora Culture Festival (BCF) 2026 mulai menunjukkan daya tarik di luar Kabupaten Blora.

Sejumlah seniman dari daerah lain telah mendaftarkan diri untuk ambil bagian dalam festival budaya yang memasuki tahun ketiga tersebut.

Pelaku seni dari Banjarnegara, Tuban, hingga Rembang tercatat telah merespons open call yang dibuka panitia.

Baca Juga: SPPG Yayasan TNI AL Blora Berdiri di Sebelah Rongsokan, Dinkes Ungkap Potensi Risiko Sanitasi

Mereka nantinya akan bergabung dengan seniman dan masyarakat Blora dalam rangkaian pertunjukan di kawasan Goa Terawang.

BCF 2026 dijadwalkan berlangsung Sabtu, 10 Oktober 2026.

Salah satu pertunjukan utama festival ini tetap mempertahankan target sedikitnya 1.000 penari.

Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Blora, Yeti Romdonah, mengatakan keterlibatan peserta dari luar daerah menjadi tambahan dalam pelaksanaan BCF tahun ini.

“Sudah ada yang mendaftar untuk berpartisipasi. Dari Banjarnegara, Tuban dan Rembang,” kata Yeti.

Menurut dia, peserta tari nantinya berasal dari berbagai kalangan. Mulai organisasi perangkat daerah (OPD), TNI-Polri, organisasi wanita, pelajar, masyarakat umum, hingga komunitas dan penggiat seni.

Peserta juga terbuka bagi masyarakat dari luar Blora.

“Peserta penari tayub kami tetap menargetkan minimal 1.000 penari, adapun garapan tampilan kami mengambil tema Gatra Cacana Jaya Kerta Bhumi,” jelasnya.

Tayub Tetap Jadi Identitas Utama

Meski menghadirkan berbagai jenis kesenian tradisional, Tayub Blora tetap menjadi pertunjukan yang mendapat porsi utama dalam BCF 2026.

Konsep festival tahun ini mengedepankan kolaborasi sejumlah kesenian lokal.

Barongan, Jedoran, dan Tari Prajurit Suro ing Jipang akan menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan.

Kolaborasi tersebut dirancang untuk memperlihatkan beragam kekayaan seni tradisional Blora dalam satu panggung.

Namun, karakter utama festival tetap bertumpu pada Tayub Blora.

“Namun kami tetap mengutamakan mengangkat seni Tayub Blora,” imbuh Yeti.

Konsep tersebut sekaligus membuka ruang bagi komunitas seni untuk berpartisipasi dan memperkenalkan budaya Blora kepada pengunjung kawasan wisata Goa Terawang.

Pengelola Desa Wisata se-Jateng Ikut Hadir

BCF 2026 juga mendapat tambahan agenda dari sektor pariwisata.

Sehari sebelum festival, Blora akan menjadi lokasi Pertemuan Forum Komunikasi (FK) Desa Wisata (Deswita) ke-35 se-Jawa Tengah.

Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dinporabudpar Blora, Galih Indra, mengatakan pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung Jumat, 9 Oktober di Desa Tinapan.

Pengelola desa wisata dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah akan mengikuti pertemuan tersebut.

Mereka juga direncanakan menginap di Blora sebelum menghadiri BCF keesokan harinya.

“Jadi tanggal 9 ada pertemuan para pengelola desa wisata se Jawa Tengah di Desa Tinapan. Mereka akan menginap,” terang Galih.

Peserta FK Deswita diperkirakan mencapai 150 hingga 200 orang. Forum tersebut melibatkan dinas yang menangani sektor pariwisata dari berbagai daerah bersama pengelola desa wisata.

Setelah mengikuti agenda di Desa Tinapan, para peserta akan menghadiri Blora Culture Festival di Goa Terawang pada Sabtu, 10 Oktober.

Kehadiran mereka diharapkan ikut menghidupkan kawasan wisata sekaligus memperluas jejaring promosi destinasi Blora.

“Jadi sifatnya berkolaborasi. Tujuannya meramaikan tempat wisata di Blora,” kata Galih. (*)

 

Editor : Abdul Rochim
Blora Culture Festival 2026 BCF 2026 Goa Terawang Blora Tayub Blora desa wisata Jawa Tengah