Uji Lab Menu MBG SPPG Sukorejo 2 di Blora Temukan E. Coli dan Bacillus Cereus

Abdul Rochim • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 19:38 WIB
‎MEMILIKI BAKTERI: Menu MBG dari SPPG Sukorejo 2 Tunjungan untuk penerima manfaat pada Senin (7/9) lalu yang mengandung bakteri. (‎ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR PATI)
‎MEMILIKI BAKTERI: Menu MBG dari SPPG Sukorejo 2 Tunjungan untuk penerima manfaat pada Senin (7/9) lalu yang mengandung bakteri. (‎ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR PATI)

BLORA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora mengungkap hasil pemeriksaan laboratorium terkait kejadian yang diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Tunjungan.

Pemeriksaan dilakukan terhadap makanan yang diproduksi SPPG Sukorejo 2 Tunjungan.

Hasil uji laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air sumur. Sementara itu, bakteri Bacillus cereus ditemukan pada dua sampel makanan, yakni kuah sop dan ayam woku kemangi.

Baca Juga: Blora Sudah Punya 95 Dapur MBG, 43 Pengajuan Baru Masih Antre

Sekretaris Dinkes Kabupaten Blora Nur Betsia Bertawati mengatakan, tim surveilans sebelumnya telah melakukan pemeriksaan di lokasi SPPG bersama sejumlah tim. 

Pemeriksaan laboratorium dilakukan di dua tempat, yakni Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Blora dan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

“Hasil pemeriksaan di Labkesda menunjukkan air sumur mengandung bakteri E. coli melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Sementara sampel air minum yang diperiksa dinyatakan normal dan tidak ditemukan bakteri tersebut,” ujarnya.

Sedangkan pemeriksaan sampel makanan dilakukan di Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Hasilnya menunjukkan adanya bakteri Bacillus cereus pada dua menu, yakni kuah sop dan ayam woku kemangi.

“Bakteri itu bisa menyebabkan keracunan. Dengan gejala yang hampir sama dengan yang dialami anak-anak (murid SMAN 1 Tunjungan, Red), seperti muntah, diare, dan mual,” jelasnya.

334 Kasus Tercatat

Dinkes menyebut tidak semua sampel makanan yang diperiksa menunjukkan hasil positif.

Sejumlah sampel dinyatakan normal, meliputi nasi putih, tempe, apel, rebusan brokoli, dan jagung manis.

Betsia menjelaskan, munculnya bakteri pada makanan dapat dipengaruhi sejumlah faktor.

Di antaranya pengelolaan makanan yang tidak sempurna, penyimpanan bahan makanan yang tidak sesuai standar, hingga proses pengolahan dan pendistribusian.

Dari kejadian tersebut, Dinkes mencatat 334 kasus. Sebanyak 198 orang menjalani rawat jalan, 10 orang menjalani rawat inap, sedangkan 126 orang mengalami gejala tetapi tidak memeriksakan diri.

Kasus tersebut juga tidak hanya dilaporkan dari satu sekolah. Sejumlah satuan pendidikan turut melaporkan kejadian serupa, yakni SMA Tunjungan, SDIT Permata Mulia, dan SMP Permata Banjari.

“Hasil pemeriksaan laboratorium itu selanjutnya telah disampaikan kepada Satgas Kabupaten bersama SPPG untuk menjadi bahan tindak lanjut,” imbuh Betsia. (ari/lin)

Editor : Abdul Rochim
MBG Blora SPPG Sukorejo 2 E. coli Bacillus cereus keracunan mbg