Sungai Irigasi Gabus Mengering, 300 Hektare Sawah di Blora Terancam Kekurangan Air

Arif Fakhrian Khalim • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 19:18 WIB
KERING: Sungai (irigasi) Gabus yang mengalami kekeringan dan muncul retakan tanah akibat musim kemarau.  (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR PATI)
KERING: Sungai (irigasi) Gabus yang mengalami kekeringan dan muncul retakan tanah akibat musim kemarau. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR PATI)

BLORA – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Blora mulai berdampak pada sektor pertanian.

Sungai Irigasi Gabus di Kecamatan Blora yang selama ini menjadi sumber pengairan utama kini mengering, sehingga sekitar 300 hektare lahan sawah terancam kekurangan pasokan air.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, debit air Sungai Gabus sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan irigasi bagi lahan pertanian.

"Sungai Gabus mengairi sekitar 300 hektare lahan pertanian. Saat ini kondisinya sudah tidak mampu lagi menyuplai air sehingga sebagian lahan dibiarkan kering karena tidak ada pasokan air," ujarnya.

Baca Juga: Kajari Blora Minta Maaf atas Dugaan Pungli Pelaksanaan Hukuman Kerja Sosial Kasus Penendangan Kucing

Selain Sungai Gabus, kondisi serupa juga terjadi pada embung-embung di berbagai wilayah Blora. 

Dari total 78 embung yang ada, sekitar 50 persen di antaranya mulai mengalami kekeringan dan masuk kategori kritis.

Menurut Surat, kondisi tersebut dipicu musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026 sesuai prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Meski demikian, embung yang masih memiliki cadangan air tidak akan dikuras habis.

Baca Juga: Akibat Harga BBM Melonjak, Target Dropping Air Bersih di Daerah Kekeringan di Blora Berkurang

Air yang tersisa diprioritaskan untuk menjaga stabilitas konstruksi embung agar tidak mengalami kerusakan.

"Embung yang masih menyimpan air tidak boleh dikeringkan seluruhnya karena cadangan air tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas bangunan," katanya.

Sementara embung yang telah mengering harus menunggu datangnya musim hujan untuk kembali terisi.

Di sisi lain, embung juga menghadapi persoalan pendangkalan akibat sedimentasi yang terbawa aliran air saat musim penghujan.

Untuk mengatasi hal tersebut, DPUPR Blora terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana maupun BBWS Bengawan Solo guna melakukan normalisasi sedimen ketika embung dalam kondisi kering.

"Setiap tahun kami bekerja sama dengan BBWS untuk mengurangi sedimentasi. Saat embung mengering menjadi waktu yang tepat melakukan normalisasi agar kapasitas tampung air kembali optimal," jelasnya.

Selama musim kemarau, DPUPR Blora memfokuskan kegiatan pada pemeliharaan embung dan normalisasi sedimen sehingga saat musim hujan tiba, daya tampung air dapat dimaksimalkan untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian.(*/him)

Editor : Abdul Rochim
musim kemarau Blora Sungai Gabus Blora kekeringan Blora irigasi pertanian Blora embung Blora