Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Hanya Dapat 15 Murid dari Kuota 64, SMPN 3 Ngawen Blora Tetap Buka Pendaftaran

Arif Fakhrian Khalim • Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:59 WIB

BANGUNAN: Gedung SMPN 3 Ngawen yang mengalami kerusakan berat dan hanya mendapatkan 15 siswa baru pada SMPB Tahun Ajaran 2026/2027. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR PATI)
BANGUNAN: Gedung SMPN 3 Ngawen yang mengalami kerusakan berat dan hanya mendapatkan 15 siswa baru pada SMPB Tahun Ajaran 2026/2027. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR PATI)

BLORA – SMP Negeri 3 Ngawen, Kabupaten Blora, hanya memperoleh 15 calon siswa baru pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.

Jumlah tersebut masih jauh dari kuota yang tersedia, yakni 64 siswa atau dua rombongan belajar (rombel).

Karena itu, sekolah masih membuka pendaftaran peserta didik baru secara offline meski tahun ajaran baru telah dimulai.

Kepala SMP Negeri 3 Ngawen Dwi Suryono Putro mengatakan, sekolah tetap menerima siswa baru selama masih memungkinkan mengikuti proses pembelajaran.

Baca Juga: Kejari Blora Rampungkan Pemeriksaan SPPG, Hasil Pendataan Dilaporkan ke Kejati Jateng

"Kami tetap akan membuka penerimaan siswa. Biasanya ada siswa yang sempat masuk pondok pesantren kemudian tidak betah dan akhirnya mencari sekolah," ujarnya.

Bahkan, kata dia, sekolah masih bersedia menerima siswa pindahan hingga sekitar pertengahan semester.

"Selama tahun ajaran baru dimulai belum lama, bahkan sampai sekitar tengah semester kalau masih ada yang pindahan, kami terima," imbuhnya.

Dwi mengungkapkan, penurunan jumlah siswa baru bukan terjadi tahun ini saja.

Tren tersebut sudah berlangsung selama beberapa tahun, bahkan sebelum dirinya bertugas di SMPN 3 Ngawen.

Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah terus menurunnya jumlah lulusan sekolah dasar di wilayah sekitar.

"Dulu sekolah ini cukup ramai. Sekarang jumlah lulusan dari SD di dekat sekolah juga terus menurun. Jumlah lulusan tiga SD itu jika ditotal semuanya tidak sampai 50 siswa," katanya.

Tiga SD yang selama ini menjadi pemasok utama siswa, yakni SD di Desa Bogowanti, Wantilgung, dan Sambongrejo, juga mengalami penurunan jumlah lulusan setiap tahun.

Selain faktor demografi, akses menuju sekolah dinilai turut memengaruhi minat calon peserta didik.

Di wilayah tersebut tidak tersedia angkutan umum, sementara pelajar SMP tidak diperbolehkan mengendarai sepeda motor ke sekolah.

"Kalau di SMPN 3 Ngawen ini juga tidak ada kendaraan umum seperti bus, ditambah anak-anak juga tidak diperbolehkan naik motor. Kondisi ekonomi masyarakat sekitar juga rata-rata menengah sehingga banyak yang memilih menyekolahkan anak ke pondok pesantren," tuturnya.

Berbagai upaya telah dilakukan sekolah untuk menarik minat lulusan SD.

Dwi bersama para guru aktif mendatangi sekolah dasar terdekat, berdiskusi dengan guru, hingga memberikan seragam sekolah secara gratis kepada siswa baru.

Ia mengungkapkan, pengadaan seragam tersebut berasal dari sumbangan sukarela para guru melalui sebagian dana sertifikasi.

"Saya sendiri sampai rela berkunjung ke SD terdekat dan berdiskusi dengan guru di sana. Untuk biaya pembelian seragam berasal dari sedikit gaji sertifikasi guru-guru di sini secara sukarela," ungkapnya.

Menurut Dwi, pemberian seragam gratis diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi siswa yang memilih melanjutkan pendidikan di SMPN 3 Ngawen.

Ke depan, pihak sekolah berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Blora membuat kebijakan pemerataan rombongan belajar di seluruh SMP negeri.

Menurutnya, pembatasan rombel di sekolah-sekolah yang selalu kelebihan pendaftar dapat memberikan kesempatan bagi sekolah dengan jumlah murid sedikit untuk memperoleh peserta didik lebih banyak.

"Kami berharap ada kebijakan dari Dinas Pendidikan terkait pembatasan rombel agar lebih merata. Di Kecamatan Ngawen ada empat SMP negeri, belum ditambah sekolah swasta. Kalau tidak ada pengaturan, sekolah kecil akan semakin sulit mendapatkan siswa," paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blora Nuril Huda membenarkan terdapat lima SMP negeri yang belum memenuhi kuota rombongan belajar pada SPMB tahun ini.

Kelima sekolah tersebut yakni SMP Negeri 2 Bogorejo, SMP Negeri 3 Menden, SMP Negeri 3 Ngawen, SMP Negeri 4 Doplang Satu Atap, dan SMP Negeri 3 Bogorejo Satu Atap.

Menurut Nuril, penurunan jumlah lulusan SD terjadi hampir di seluruh wilayah Kabupaten Blora sehingga berdampak pada menurunnya jumlah pendaftar di jenjang SMP.

"Untuk jumlah lulusan SD di Blora saat ini secara keseluruhan mengalami penurunan. Hal itu mengakibatkan hampir semua SMP jumlah pendaftarnya mengalami penurunan juga," ujarnya.

Meski demikian, ia meminta seluruh sekolah tetap menjaga kualitas pembelajaran dan pelayanan pendidikan, terutama bagi sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan murid.

Kondisi tersebut akan menjadi bahan evaluasi Dinas Pendidikan untuk menentukan langkah penanganan ke depan.

"Kami berharap mutu dan pelayanan untuk sekolah yang kekurangan murid juga harus selalu ditingkatkan," pungkasnya. (ari)

Editor : Abdul Rochim
#SMP kekurangan murid #kuota siswa SMP #SMPN 3 Ngawen Blora #dinas pendidikan blora