BLORA – Fenomena kekurangan murid baru masih menjadi tantangan bagi sejumlah sekolah dasar negeri di wilayah eks Karesidenan Pati pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, berbagai strategi dilakukan sekolah untuk menarik minat calon siswa, mulai dari promosi langsung ke taman kanak-kanak (TK).
Selai itu juga jemput bola ke rumah warga, hingga mengandalkan prestasi sekolah.
Salah satu sekolah yang mengalami minimnya pendaftar adalah SDN 2 Kunden, Blora.
Baca Juga: PANTAS SAJA! SD Negeri Tempelan Blora Sampai Tolak-Tolak Murid Baru, Ternyata Ini yang Dilakukan
Hingga pelaksanaan SPMB tahun ini, sekolah tersebut baru memperoleh tiga calon murid baru.
Kepala SDN 2 Kunden Wachida Lina Murti mengungkapkan, tiga siswa yang telah mendaftar bahkan belum seluruhnya masuk ke sistem pendataan karena proses pendaftaran dilakukan secara offline.
“Banyak orang tua masih belum memahami pendaftaran melalui aplikasi. Karena itu kami meminta perpanjangan waktu untuk memasukkan data siswa ke sistem,” ujarnya.
Menurut Lina, rendahnya jumlah pendaftar dipengaruhi banyaknya sekolah lain di sekitar SDN 2 Kunden yang menjadi pilihan masyarakat.
Di antaranya SDN Tempelan, SDN 1 Kunden, SDN Kauman, hingga SD Islam Baitunnur yang membuka beberapa rombongan belajar sekaligus dan sebagian besar telah terisi penuh.
Ia mengakui sekolahnya kalah cepat dalam melakukan promosi dibanding sekolah lain.
“Biasanya sekolah lain sudah mulai pendekatan ke TK satu sampai dua bulan sebelum SPMB dibuka. Kami kalah dalam hal itu,” katanya.
Meski demikian, pihak sekolah masih membuka kesempatan bagi orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya secara langsung.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Pati mendorong sekolah untuk lebih aktif mencari calon peserta didik.
Kabid SD Disdikbud Kabupaten Pati Handayani menegaskan pentingnya strategi jemput bola agar sekolah tidak kekurangan murid.
“Saya selalu menekankan kepada sekolah untuk jemput bola. Guru bisa datang ke rumah warga atau ke TK untuk mengenalkan sekolah dan menjaring calon murid,” ujarnya.
Menurut Handayani, masih ada sejumlah sekolah yang cenderung pasif dan hanya mengandalkan brosur atau papan informasi saat masa penerimaan peserta didik.
“Sekarang zamannya digital. Sekolah harus punya inovasi sendiri dalam promosi,” katanya.
Ia menilai keputusan orang tua dalam memilih sekolah kini semakin dipengaruhi kualitas dan citra sekolah.
Prestasi akademik maupun nonakademik menjadi salah satu faktor penting yang mampu menarik minat masyarakat.
“Kalau sekolah punya banyak prestasi lalu dipublikasikan dengan baik, biasanya orang tua akan lebih tertarik. Itu menjadi nilai tambah yang cukup kuat,” jelasnya.
Fenomena persaingan mendapatkan murid baru juga terlihat dari keberhasilan sejumlah sekolah yang mampu menarik banyak pendaftar melalui promosi aktif dan publikasi prestasi.
Sekolah yang mampu membangun citra positif di masyarakat cenderung lebih diminati meski lokasinya tidak selalu berada di pusat kota.
Dengan jumlah lulusan TK yang relatif terbatas dan banyaknya pilihan sekolah, strategi promosi, inovasi program, serta prestasi sekolah kini menjadi faktor penting dalam menentukan jumlah murid baru yang berhasil direkrut setiap tahun. (ari)