RADAR PATI - Keberanian mencoba komoditas baru berhasil membawa bisnus baru Dian Tega Pratama, petani asal Desa Palon, Kecamatan Jepon.
Berbekal belajar secara otodidak melalui media sosial seperti TikTok dan Youtube.
Dian nekat menanam semangka di lahan seluas 1,7 hektare dengan modal mencapai Rp 55 juta rupiah.
ARIF FAKHRIAN KHALIM, Kudus
DITEMUI di sebuah gubuk kecil di tengah-tengah sawah kebun miliknya.
Dian tengah mengawasi dan menemani tengkulak yang ingin membeli semangka di kebun miliknya.
Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Pengendara di Blora Keluhkan tetapi Tetap Membeli
Ia bercerita bahwa belum memiliki pengalaman banyak tentang pertanian buah semangka.
Sebelumnya, ia menggeluti budidaya jagung, padi dan tembakau.
Namun, kondisi cuaca yang dinilai berisiko untuk tembakau membuatnya mencari alternatif lain.
Karena, cuaca pada awal tahun itu masih tidak menentu untuk tanaman tembakau.
“Tercetuslah untuk memilih mengembangkan pertanian buah semangka. Saat memulai budidaya semangka itu sekitar April lalu, saya sempat meminta pendampingan dari dinas pertanian Blora yang kemudian diteruskan kepada penyuluh pertanian lapangan Jepon,” ucapnya.
Namun, setelah tahap awal, Dian lebih banyak belajar mengembangkan budidaya secara mandiri.
Di lahan seluas 1,7 hektare itu, Dian menanam sebanyak 18 ribu tanaman semangka.
“Modal awal saya itu habis Rp 55 juta. Uang itu digunakan untuk membeli benih, tenaga kerja, mulsa plastik dan pupuk,” jelasnya.
Bahkan, ia sempat menggunakan tenaga dari Kecamatan Kunduran dan Kabupaten Purwodadi untuk mencangkul lahan semangka miliknya.
Ia juga sempat mengalami fase kebingungan saat melakukan pembesaran buah semangka miliknya.
“Karena saat itu dilepas oleh PPL dan kondisi hujan turun dua hari ditambah muncul penyakit kresek. Alhamdulillah masih ada yang beli dan penebas dari luar daerah,” ungkapnya.
Dian mengaku kendala di pertanian semangka itu pupuk memnggunkan yang non subsidi. Jadi, harga pupuk itu cukup mengosongkan dompet.
Menurut Dian, harga semangka saat ini mengalami kenaikan. Untuk satu kilogram itu dihargai Rp 6 ribu.
Sedangkan, untuk rata-rata berat buah itu sekitar empat sampai enam kilogram.
“Sebenernya saya menanam semangka ini untuk pasokan MBG, akan tetapi dapur saat ini sedang ditutup sementara ya dijual ke tengkulak. Alhamdulillah berapa saja disyukuri dan yang terpenting balik modal dulu,” tuturnya.
“Kedepannya saya tidak kapok menanam semangka lagi, tapi saran dari petani senior itu menunggu setelah tanam padi,” imbuhnya. (*/him)
Editor : Abdul Rochim