BLORA – Puluhan nasabah Koperasi BMT BUS melaporkan dugaan masalah pencairan deposito dan tabungan ke Polres Blora.
Sebanyak 42 nasabah mengaku mengalami kerugian dengan total mencapai Rp 4,2 miliar karena dana mereka tak kunjung bisa dicairkan.
Salah satu pelapor, Wijianto, mengatakan mulai mencurigai adanya masalah pada koperasi tersebut sejak 2023.
Baca Juga: KORBAN INVESTASI Bodong Snapboost di Blora Terus Bertambah, Nilai Kerugian Bikin Geleng-Geleng
Saat itu, dirinya mengalami kesulitan menarik tabungan dan deposito miliknya yang nilainya mencapai Rp 1,2 miliar.
Menurutnya, ketika mencoba mencairkan dana, ia hanya menerima Rp 500 ribu.
Pihak koperasi saat itu menjanjikan pengembalian dana dalam jangka waktu maksimal tiga tahun.
“Waktu itu dijanjikan pengembalian dana maksimal tiga tahun. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan,” ujarnya.
Wijianto menyebut para korban tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Blora, seperti Kecamatan Blora Kota, Randublatung, Cepu, Ngawen, hingga Kunduran.
Nilai kerugian setiap korban bervariasi, mulai Rp 100 juta hingga lebih dari Rp 1 miliar.
Dana nasabah yang tersimpan terdiri dari tabungan dan deposito.
Para korban juga mengaku terakhir berkomunikasi dengan pengurus koperasi saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Lasem, Rembang, pada 2024 lalu.
Dalam pertemuan itu, pengurus kembali menjanjikan pengembalian dana dalam waktu tiga tahun.
Namun setelahnya, para pengurus disebut sulit dihubungi dan sejumlah kantor cabang tidak lagi terlihat beroperasi.
Di Kabupaten Blora, kantor cabang BMT BUS diketahui berada di kawasan Cepu, Blora Kota, dan Ngawen.
Meski bangunan kantor masih ada, aktivitas operasional disebut sudah tidak terlihat.
Para korban juga mulai melaporkan sejumlah nama pengurus koperasi yang tercantum dalam akta notaris, termasuk jajaran ketua, sekretaris, dan bendahara.
Nasabah berharap laporan kepada aparat penegak hukum dapat membantu mengembalikan dana mereka.
Para korban juga menyebut dugaan kasus serupa terjadi di sejumlah daerah lain di Jawa, Bali, hingga Kalimantan.
“Informasinya total ada sekitar 374 ribu nasabah. Minggu ini rata-rata korban mulai melapor di wilayah masing-masing,” katanya. (noe)