BLORA - Lonjakan harga minyak goreng kembali dirasakan warga Kabupaten Blora.
Harga Minyakita di sejumlah distributor bahkan menembus Rp 21 ribu per liter, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp 15.700.
Kondisi ini membuat pedagang mitra Perum Bulog menggelar operasi pasar di Pasar Sido Makmur dengan menyediakan Minyakita dan beras dalam jumlah besar.
Baca Juga: Dana Desa Terbatas, 8 Prioritas Pembangunan Desa di Blora Berpotensi Terganggu
Sejumlah warga, terutama ibu rumah tangga, tampak rela mengantre panjang demi mendapatkan minyak goreng dengan harga sesuai HET.
Bahkan, mereka tetap bertahan meski harus kehujanan.
Salah satu warga, Lilis Juariah, mengaku rela antre demi mendapatkan harga yang lebih terjangkau.
“Di pasaran harganya Rp21 ribu per liter. Kalau di sini bisa dapat Rp15.700, jadi lebih murah,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Blora, Indah Yuniatik, membenarkan adanya kenaikan harga minyak goreng di wilayahnya.
Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut belum bisa disebut sebagai kelangkaan.
“Minyak goreng masih tersedia, baik kemasan maupun curah, meski harganya memang naik,” jelasnya.
Indah menyebut, masyarakat tetap bisa memperoleh harga sesuai HET melalui pedagang mitra Bulog.
Saat ini, stok minyak kemasan di Blora diperkirakan masih mencapai sekitar 4 ribu karton.
Ia juga menambahkan, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan melakukan langkah intervensi jika harga terus naik, salah satunya dengan penyaluran minyak subsidi ke pasar.
“Tujuannya agar harga tetap stabil dan masyarakat bisa membeli dengan harga terjangkau,” pungkasnya. (ari)
Editor : Abdul Rochim