BLORA – Kenaikan harga bahan baku seperti minyak goreng, plastik, dan tepung pati berdampak signifikan terhadap pelaku usaha kerupuk di Kabupaten Blora.
Para pengrajin terpaksa mengurangi margin keuntungan hingga menurunkan kapasitas produksi agar usaha tetap berjalan.
Salah satu pelaku usaha kerupuk di Kedungjenar, Kecamatan Blora, Novi, mengaku tidak berani menaikkan harga jual meski biaya produksi terus meningkat.
Baca Juga: DPRD Blora Dorong Dua Kepala Puskesmas Terlibat Selingkuh Segera Dibebastugaskan
“Kami tidak berani menaikkan harga. Jadi yang berkurang itu margin atau laba kami. Biasanya disiasati ukuran kerupuknya sedikit dikecilkan,” katanya.
Selain minyak goreng, harga plastik juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Hal ini semakin menekan biaya produksi.
“Kalau harga dinaikkan, kasihan bakulnya juga. Mereka juga terdampak karena harga plastik mahal,” jelas Novi.
Ia memilih tetap menjaga harga agar para pedagang mitra tidak ikut terbebani.
Kondisi pasar yang lesu turut memengaruhi aktivitas produksi.
Jika sebelumnya produksi dilakukan hampir setiap hari, kini hanya berlangsung tiga hingga empat kali dalam sepekan.
“Dulu bisa produksi penuh dari Senin sampai Sabtu. Sekarang paling hanya tiga sampai empat kali seminggu. Turunnya hampir separuh,” terangnya.
Penurunan produksi tersebut berdampak langsung pada omzet usaha.
“Penurunan omzet jelas lebih dari 50 persen,” tambahnya.
Harga minyak goreng menjadi salah satu faktor utama yang memberatkan.
Jika sebelumnya berada di kisaran Rp16.000 per liter saat masih disubsidi, kini melonjak menjadi sekitar Rp20.600 tanpa subsidi.
“Sekarang sudah Rp20.600, dan tidak ada subsidi seperti dulu,” keluhnya.
Tak hanya itu, harga tepung pati sebagai bahan utama juga mengalami kenaikan signifikan.
Dalam sekali pembelian hingga 4 ton, selisih harga dibandingkan sebelumnya bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp 4 juta.
“Kalau ambil 4 ton, selisihnya bisa sampai Rp3 juta sampai Rp 4 juta sekali datang,” jelas Novi.
Kondisi ini memaksa para pengrajin untuk terus beradaptasi agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang semakin tinggi. (fik)
Editor : Abdul Rochim