Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

APES! Hajatan Nikah di Blora Batal, Teras Rumah dan Jalan Ambles

Abdul Rochim • Jumat, 17 April 2026 | 13:40 WIB
Rumah di Desa Tutup, Blora, mengalami ambles sedalam 3 meter pada bagian teras rumah. (ARIF FAKHRIAN KHALIM / RADAR PATI)
Rumah di Desa Tutup, Blora, mengalami ambles sedalam 3 meter pada bagian teras rumah. (ARIF FAKHRIAN KHALIM / RADAR PATI)

BLORA – Nasib pilu dialami Sumiatun (52), warga Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan.

 Di tengah rencana hajatan pernikahan anaknya, ia justru harus menghadapi bencana tanah gerak yang membuat teras rumahnya ambles hingga tiga meter dan memaksa acara tersebut dibatalkan.

Fenomena tanah gerak di wilayah tersebut memang kian parah.

Baca Juga: Daging Berbau, Menu MBG di Sekolah PAUD di Blora Dikembalikan ke SPPG Andongrejo

Rumah milik Sumiatun mengalami kerusakan serius setelah bagian teras ambruk akibat pergerakan tanah yang terus berlangsung.

Dari pantauan di lokasi, sisa bangunan rumah tampak menggantung di tepi amblesan.

Teras rumah sudah runtuh, menyisakan puing-puing material bangunan yang berserakan di bawah. Kedalaman amblesan diperkirakan mencapai 2,5 hingga 3 meter.

Peristiwa itu terjadi sekitar tiga hari lalu saat hujan deras disertai petir mengguyur kawasan tersebut pada sore hari.

“Kejadiannya tiga hari yang lalu. Waktu itu hujan deras, sore sekira pukul 16.00. Tiba-tiba tanahnya bunyi ‘krek-krek’, terus ambles pelan-pelan,” ungkap Sumiatun.

“Tidak lama kemudian teras langsung ambruk,” tambahnya.

Mendengar suara retakan tanah, Sumiatun dan keluarganya langsung panik dan memilih menyelamatkan diri ke rumah kerabat terdekat. Keputusan itu diambil karena khawatir bangunan rumah akan ikut roboh.

“Saya takut, tidak berani di rumah. Baru sebentar keluar, teras bagian depan sudah ambrol,” terangnya.

Meski telah mengungsi, rasa cemas masih terus dirasakan, terutama saat malam hari. 

Ia khawatir tanah kembali bergerak dan menyebabkan sisa bangunan rumahnya ikut ambruk.

“Kalau malam tidak bisa tidur nyenyak, kepikiran rumah. Kalau tanahnya ambles lagi. Soalnya tiap hari tanahnya masih turun pelan-pelan,” ujarnya.

Hingga kini, Sumiatun dan keluarganya belum mengetahui sampai kapan harus tinggal di rumah saudara. Ia berharap ada penanganan segera agar kondisi tidak semakin parah.

“Ya enggak tahu sampai kapan. Harapannya segera ditangani, biar tanahnya tidak bergerak lagi. Kami takut kalau dibiarkan, bisa tambah parah,” paparnya.

Selain merusak rumah, amblesan tanah juga memutus akses jalan desa yang sebelumnya berada tepat di depan rumahnya. Jalan yang dahulu bisa dilalui kendaraan kini tidak dapat digunakan lagi karena ambles hingga beberapa meter.

Di tengah kondisi tersebut, Sumiatun harus merelakan rencana pernikahan anaknya yang dijadwalkan pada bulan Sapar mendatang.

“Saya ini sedih dan bingung, bulan Sapar besok anak saya mau nikah. Tapi dengan kondisi ini, besan sudah saya kasih tahu dan mengerti,” ucapnya.

“Kondisi teras sudah ambrol, jalan nggak ada dan mau ditaruh mana nanti pesta nikah anak saya,” imbuhnya.

Peristiwa ini menjadi salah satu potret dampak serius fenomena tanah gerak yang melanda wilayah tersebut, sekaligus harapan warga agar segera ada penanganan dari pihak terkait. (ari/him)

Editor : Abdul Rochim
#tanah ambles Blora #rumah ambruk Tunjungan #korban longsor Blora #hajatan batal #Dukuh Ngetrep