Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Dugaan Korban Investasi Bodong di Blora Capai 700 Lebih Orang, Nominal Terakumulasi Lebih dari Rp 2 Miliar

Abdul Rochim • Kamis, 16 April 2026 | 06:49 WIB

GELISAH: Roy, warga Blora saat menjelaskan dugaan investasi bodong di aplikasi SnapBoost. (EKO SANTOSO/RADAR PATI)
GELISAH: Roy, warga Blora saat menjelaskan dugaan investasi bodong di aplikasi SnapBoost. (EKO SANTOSO/RADAR PATI)

BLORA- Korban dugaan investasi bodong melalui aplikasi Snapboost di Blora membeludak. 

Lebih dari 700 orang dengan akumulasi nominal lebih dari Rp 2 Miliar. 

Para korban baru buka suara lantaran saat ini saldo di aplikasi tersebut tak bisa ditarik.

Baca Juga: Koperasi Merah Putih Tegalgunung Blora Dibangun di Atas Kuburan, Warga Pertanyakan Kejelasan Lahan

Seorang korban Roy menyebut sempat berupaya mempertemukan sejumlah korban dengan pihak yang mempromosikan aplikasi itu. 

"Tadi saya coba menjembatani para member Snapboost dengan Bu Diana (yang mempromosikan aplikasi). Tapi member tak datang," ujarnya. 

Menurutnya para member awalnya menuntut pengembalian uang. Sebab saldo di aplikasi tersebut tak bisa ditarik. 

Roy menjelaskan ada 725 warga Blora yang terjerat aplikasi itu. Dengan total nilai deposit mencapai lebih dari Rp 2 Miliar. 

"Nominal yang deposit bermacam. Mulai dari 500 ribu sampai 174 juta. Akumulasi dari 500 member saja sudah 2 miliar," bebernya. 

Dalam skema dugaan investasi bodong itu, para member harus deposit dengan cara mengirim uang ke sebuah rekening perusahaan.

Dengan itu member bisa mulai bekerja di aplikasi. 

Kerjanya, memberikan like pada video di medsos yang ditampilkan lewat aplikasi itu. 

"Satu klik dalam sehari. Jadi sekali klik dapat 1,8 persen dari nilai aset. Dapat saldo," jelasnya.

Baca Juga: Koperasi Merah Putih Dibangun di Area Dekat Makam, Warga Tegalgunung Blora Kebingungan

Dari saldo itu kemudian bisa dipindahkan ke rekening. Semula lancar, tetapi kini tak bisa dicairkan. 

"Ini yang menyebabkan member marah. Korbannya ada siswa dan masyarakat umum," tambahnya. 

Seorang pihak yang mempromosikan aplikasi itu di Blora yakni Diana. Ia merupakan guru di SMA 1 Blora. 

Menurut keterangan Diana, ia tidak mempromosikan secara langsung.

Memang ia pernah deposit sampai ratusan juta. Kemudian diunggah di medsos. Lalu, banyak pihak yang tertarik ikut. 

"Bu saya boleh ikut? Lalu saya jawab silahkan. Bahkan yang gak punya dana buat deposit saya pinjami. Kalau gak 505 ya 600 ribuan. Dalam 40 hari jadi 2 kalinya, baru nanti mengembalikan," terangnya. 

"Mereka kemauan sendiri. Setelah ramai baru saya jadi tahu kalau itu penipuan. Dari awal gabung lancar, ya gak merasa ketipu," imbuhnya. 

Sementara sebagai guru ekonomi di SMA 1 Blora, ia memang memberikan pelajaran ekonomi digital. Dari situlah ia memberikan pemahaman kepada siswa terkait Snapboost. 

" Saya tunjukkan ke anak-anak. Ada namanya Snapbost, bisa nabung. Nanti untuk tabungan kuliah. Deposit saya talangi ada 7 orang, lainnya dana sendiri," katanya. 

Menurutnya aplikasi tersebut tidak memang tidak terdaftar di OJK.

Kemudian bersifat piramida, layaknya MLM. Jadi semacam jaringan. Yang paling atas paling banyak untung.

"Jadi dari 700,an orang tidak semua member di bawah saya. Di bawahnya ada uplan. Namun mereka belum semua kuasai aplikasi sehingga saya bantu. Memang semakin banyak member semakin banyak keuntungan," bebernya. (tos)

 

Editor : Abdul Rochim
#aplikasi Snapboost #investasi bodong #korban investasi bodong #blora