BLORA – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blora terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Upaya ini menjadi bukti bahwa akses pendidikan setara bukan sekadar wacana, melainkan telah diterapkan secara nyata di lingkungan pembelajaran nonformal tersebut.
Saat ini, sedikitnya 10 peserta didik disabilitas tercatat aktif mengikuti program kejar paket, mulai dari Paket A hingga Paket C.
Baca Juga: BUOKK LAH! Banjir Cepu Blora Malah Rendam Bantuan Pangan dan Dokumen Warga, Distribusi Tertunda
Kepala SKB Blora, Jumini, menegaskan bahwa seluruh peserta didik, tanpa terkecuali, mengikuti proses belajar dalam kelas yang sama.
Hal ini dilakukan untuk menghapus sekat perbedaan dan menciptakan suasana pembelajaran yang setara.
“Setiap angkatan dari Paket A hingga C ada siswa disabilitas. Mereka belajar bersama dalam satu kelas tanpa dibedakan,” ujarnya, Senin (13/4).
Tak hanya pada jenjang pendidikan kesetaraan, penerapan inklusi juga dilakukan pada tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di SKB Blora.
Beragam kondisi disabilitas ditemukan, mulai dari keterlambatan bicara (speech delay), autisme, ADHD, hingga gangguan penglihatan. Untuk memastikan penanganan yang tepat, pihak SKB menjalin koordinasi dengan puskesmas dan rumah sakit daerah.
Menurut Jumini, SKB berperan dalam memberikan stimulasi pendidikan, sementara penanganan medis diserahkan kepada pihak yang berkompeten.
“Kami berkoordinasi dengan puskesmas dan meminta rekomendasi pendampingan ke RSUD. Penanganan tetap oleh tenaga ahli,” jelasnya.
Dalam proses penerimaan peserta didik baru, SKB Blora juga melakukan observasi awal guna memahami kondisi masing-masing anak.
Orang tua dilibatkan secara aktif dalam proses ini, termasuk dalam evaluasi perkembangan yang dilakukan setiap tahun melalui konsultasi dengan pihak rumah sakit.
Sebagai bentuk dukungan fasilitas, sejumlah ruang kelas di SKB Blora kini telah dilengkapi dengan guiding block atau jalur pemandu bagi siswa tunanetra.
Fasilitas ini diharapkan dapat membantu mobilitas siswa dengan keterbatasan penglihatan agar lebih mandiri dalam mengikuti kegiatan belajar.
Jumini menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap anak.
Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya memberikan layanan terbaik, meskipun tantangan dalam mendidik siswa disabilitas cukup besar.
Saat ini, mayoritas siswa disabilitas di SKB Blora merupakan penyandang disleksia, dengan kemampuan membaca dan menulis yang masih terbatas.
“Kami selalu memberi semangat kepada para pendidik untuk sabar dan konsisten. Begitu juga dengan siswa, agar tidak mudah menyerah dan tetap disiplin,” tambahnya.
Di tengah berbagai keterbatasan, SKB Blora tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mendorong peserta didik untuk memiliki keterampilan yang bermanfaat di masa depan.
Dengan pendekatan ini, diharapkan para siswa disabilitas tetap memiliki peluang untuk mandiri dan berdaya saing.
Upaya yang dilakukan SKB Blora menjadi contoh bahwa pendidikan inklusif dapat diwujudkan melalui kolaborasi, kepedulian, dan komitmen bersama.
Ke depan, langkah ini diharapkan terus berkembang sehingga semakin banyak anak berkebutuhan khusus yang mendapatkan hak pendidikan secara layak dan setara. (ari/him)