BLORA - Beredar chat tak senonoh guru SMP 1 Randublatung ke siswa, Komisi D DPRD Kabupaten Blora panggil pihak sekolah dan Dinas Pendidikan.
Mereka dimintai keterangan di ruang Komisi D pada Kamis (09/04).
Dalam pesan tak senonoh yang beredar itu seorang guru SMP 1 Randulatung tampak intensif mengirim pesan WhatsApp ke siswa.
Baca Juga: APES! Lupa Matikan Kompor Saat Memasak, Rumah Warga Muraharjo Kunduran Blora Terbakar
Anehnya pesan-pesan itu tak wajar layaknya guru dan murid.
Justru semacam godaan. Seperti sanjungan cantik, emoticon love hingga muuah.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Blora Achlif Nugroho Widi Utomo menjelaskan atas hal tersebut pihaknya memanggil beberapa pihak.
Mulai dari Dinas Pendidikan, Inspektorat, Dinsos P3A, BKPSDM dan pihak sekolah.
"Kami klarifikasi semua unsur. Potensi ditemukan adanya pelanggaran etik di guru," katanya.
Dari konfirmasi yang dilakukan itu pihak sekolah ternyata sudah melakukan investigasi awal.
Mempertemukan siswa, orang tua siswa, dan guru yang bersangkutan.
Ternyata kejadian bermula sejak 2025. Saat itu guru yang bersangkutan memanggil seorang siswa perempuan di ruang OSIS.
Dasarnya menganggap siswa kerap melamun dan bengong, sehingga dikira punya masalah.
Dari situlah menurut keterangan pihak sekolah si guru melakukan penyelidikan.
"Ternyata saat itu tidak melibatkan guru BK. Padahal guru BKnya perempuan. Sementara si guru yang bersangkutan laki-laki," bebernya.
Untuk mendalami hal itu dibentuklah tim investigasi. Yang melibatkan berbagai unsur.
Baca Juga: Perluas Lahan, Blora Incar Posisi sebagai Raja Jagung Jateng
"Kami beri waktu maksimal seminggu untuk melaporkan hasilnya kepada Komisi D," imbuhnya.
Sementara untuk para siswa, pihaknya meminta Dinsos P3A terlibat dalam proses pendampingan.
Sebab dikhawatirkan siswa yang bersangkutan mengalami psikis.
Kepala Dinas Pendidikan Sunaryo menjelaskan jika guru yang bersangkutan adalah guru bahasa Inggris. Seorang ASN. "Namanya Pak Pri," tuturnya.
Pihaknya menyebut dengan tim yang sudah dibentuk itu akan bekerja di lapangan. Mendalami kontruksi kasus.
"Kami akan melibatkan orang tua. Termasuk anak guru bersangkutan," imbuhnya.
Menurutnya secara etika pesan yang dikirim guru tersebut memang tidak pas.
Namun tidak menutup kemungkinan ada peristiwa yang melatarbelakangi.
"Saya lihat ini tak ada kesengajaan niat jelek. Kalau chat itu, kalau kita baca tekstual memang gak lumrah," terangnya. (tos)
Editor : Abdul Rochim