BLORA – Tradisi sedekah bumi di Desa Jiken, Kecamatan Jiken berlangsung meriah melalui ritual khas bernama sawuran.
Kegiatan tahunan ini selalu menyedot antusiasme warga yang turut memeriahkan arak-arakan gunungan hasil bumi pada Minggu (29/03).
Seperti tradisi sedekah bumi pada umumnya, masyarakat menyiapkan gunungan berisi hasil pertanian serta nasi berkat yang dibungkus daun jati.
Baca Juga: KEREN! Tradisi Manganan di Blora Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Gunungan tersebut kemudian diarak keliling kampung dengan diiringi kesenian Barongan Blora, diikuti warga yang berjalan bersama dalam suasana penuh kebersamaan.
Arak-arakan berhenti di bawah pohon besar di Lapangan Desa Jiken. Gunungan kemudian diletakkan di lokasi yang telah disediakan.
Sesepuh desa memimpin doa sebagai bentuk ungkapan syukur atas kesehatan, rezeki, dan hasil panen yang melimpah.
Setelah doa selesai, warga langsung berebut isi gunungan. Uniknya, nasi berkat dan hasil bumi yang didapat tidak hanya dibawa pulang, tetapi juga dilemparkan kepada warga lain.
Suasana pun menjadi riuh dengan tawa dan sorak-sorai saat masyarakat saling melempar berkat sebagai bagian dari tradisi sawuran.
Ketua panitia sedekah bumi, Muhammad Ngatmin, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas berkah panen dan kesehatan yang diberikan Tuhan.
Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun setelah masa panen.
Isi gunungan beragam, mulai dari nasi berkat, jajanan tradisional, buah, hingga berbagai hasil pertanian.
Tradisi sawuran menjadi ciri khas sedekah bumi di Desa Jiken karena warga wajib ikut serta dalam lempar-lemparan berkat sebagai simbol kebahagiaan dan rasa syukur.
Salah satu warga, Enjel, mengaku selalu menantikan tradisi tersebut setiap tahun karena suasananya meriah dengan iringan Barongan serta momen lempar berkat yang unik.
Meski begitu, ia memilih menonton dari kejauhan karena khawatir berdesakan saat warga berebut gunungan. (tos)