Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Gelaran Dramatisasi Novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer Sihir Penonton

Eko Santoso • Senin, 11 Agustus 2025 | 19:06 WIB

ATRAKTIF: Landung Simatupang (depan dua dari kiri) saat menjadi narator dalam pementasan dramatisasi novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Perburuan di Pendopo Kabupaten Blora pada Sabtu (9/08) malam.
ATRAKTIF: Landung Simatupang (depan dua dari kiri) saat menjadi narator dalam pementasan dramatisasi novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Perburuan di Pendopo Kabupaten Blora pada Sabtu (9/08) malam.

BLORA – Gelaran dramatisasi Novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer di Pendopo Kabupaten Blora pada Sabtu (09/08) sihir penonton.

Pertunjukan yang atraktif, permainan lighting, perpaduan permainan layar, serta akting para pemeran membuat penonton terpesona.

Lebih dari seratus orang bertahan menyaksikan pertunjukan yang digelar selama sejam lebih, yang berakhir lebih dari pukul 22.00.

Tampak anak-anak, muda-mudi, remaja, dewasa dan orang tua khusuk melihat adegan demi adegan.

Penonton yang datang pun lintas daerah, tak sekedar dari Blora.

Ada yang jauh-jauh dari Jakarta, Semarang, Blitar, Bojonegoro, dan daerah lain
Satu di antaranya Anwar dari Semarang.

Ia ke Blora dengan temannya naik motor selama lebih dari empat jam untuk bisa menyaksikan pertunjukkan tersebut.

Menurutnya acara tersebut sangat menarik, sebab mengangkat novel menjadi drama pertunjukkan.

Rasa penasaran dan usahanya ke Blora itu pun terbayar.

"Saya kira ini luar biasa. Karena gak mudah ya, dari karya tulis dikemas jadi pertunjukkan," paparnya.

Terlebih yang dipentaskan menyoroti lokalitas Blora pada konteks jaman penjajahan Jepang menuju kemerdekaan.

"Menyoroti daerah, lokal, kasus, bagi saya menarik. Karena gak semua orang menyadari keluarbiasaan latar Blora dalam karya Pramoedya. Semoga ke depan kita bisa saling support dan dukung. Sehingga hal ini yang semoga bisa makin besar ke depannya," tambahnya.

Ketua Perkumpulan Seni Nusantara Baca sekaligus Produser dalam pergelaran ini Engelina Prihaksiwi menyebut acara tersebut terselenggara berkat dukungan dari Dana Indonesiana.

Dengan melibatkan berbagai pihak.

Yakni Rumah Literasi (RuLi) serta Dewan Kebudayaan Blora.

"Pergelaran ini tidak hanya menampilkan estetika melainkan juga menggugah kesadaran sejarah dan budaya, serta semangat kebangsaan dan kemanusiaan," paparnya.

Menurutnya pergelaran ini merupakan alih wahana kreatif.

Dari sastra tulis ke pertunjukan yang memadukan pembacaan dramatik, seni tari kontemporer, musik gesek, piano, seni rupa dan visual, serta elemen dokumentasi sejarah.

"Ini bukan hanya soal menghadirkan pertunjukan seni, tapi bagaimana seni bisa membicarakan sastra dan nilai-nilai kebangsaan yang relevan hingga hari ini," jelasnya.

Menurutnya salah satu keunikan pementasan itu adalah pendekatannya yang kolaboratif dan lintas generasi.

Seniman yang terlibat berasal dari berbagai disiplin seperti seni teater, tari, musik, dan seni rupa, serta lintas wilayah dari Blora hingga Jakarta.

Penulis naskah sekaligus sutradara dalam pertunjukan ini, Landung Simatupang menyebut tantangan utama dalam produksi ini adalah bagaimana menginterpretasikan teks sastra klasik menjadi pertunjukan yang tetap setia pada pesan aslinya namun mampu menjangkau audiens masa kini.

Tak hanya itu, upaya meramu berbagai elemen seni agar padu secara harmonis juga menjadi proses kreatif yang memerlukan ketelitian dan keberanian.

"Bagaimana kita bisa menjembatani dunia teks yang kuat seperti novel Perburuan karya Pramoedya dengan latar tempat di Blora ketika Proklamasi dikumandangkan di Jakarta pada 17 Agustus 1945 dengan ekspresi panggung yang hidup dan dinamis. Itu adalah tantangan sekaligus peluang besar,” ujarnya.

Ketua Dewan Kebudayaan Blora Dalhar Muhammadun menambahkan jika pelaksanaan acara tersebut sempat diwarnai drama, lantaran ada beberapa pihak yang tidak berkenan.

Mereka berargumen kegiatan itu akan membangkitkan paham komunisme.

Namun acara tetap dilangsungkan lantaran ada peran Pemerintah Kabupaten Blora yang menjembatani.

Sebab acara memang tak mengandung unsur-unsur paham komunisme dan paham lain yang bertentangan dengan Pancasila.

Sehingga acara tetap dilangsungkan.

"Meski ada beberapa syarat. Di antaranya yang seyogyanya dilaksanakan di Tirtonadi, dialihkan ke Pendopo Kabupaten Blora," tuturnya.

Pasca menonton pertunjukkan tersebut, pihaknya pun mengajak masyarakat menilai apakah kekhawatiran sebagian orang itu benar adanya.

"Dari pertunjukkan ini kita bisa melihat, apakah pertunjukkan ini seperti yang dikhawatirkan sebagian orang-orang itu," tambahnya.

Baginya, dramatisasi Novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer justru mengandung nilai-nilai nasionalisme.

Di dalamnya ada kisah percintaan, pengkhianatan, perjuangan, kejujuran dan sikap patriotik.

Terlebih setting latar dan waktu memang pada masa peralihan jaman penjajahan Jepang ke masa kemerdekaan Republik Indonesia. (tos/nana)

Editor : Syaiful Amri
#pramoedya ananta toer #dramatisasi Novel Perburuan #sastra #blora