BLORA, RadarPati.id - Bupati Blora Arief Rohman usulkan agar diterapkan transmigrasi lokal untuk warga terdampak Proyek Strategis Nasional Bendungan Gerak Karangnongko.
Ini agar warga masih tetap bisa tinggal di Blora. Akibat dampak itu, ada tiga desa yang terdampak. Yakni Desa Ngrawoh, Nglebak dan Nginggil.
Bupati meminta agar warga tiga desa yang terdampak itu bisa direlokasi di wilayah sekitar. ”Atau istilahnya transmigrasi lokal yang lokasinya tidak jauh dari desa yang sekarang. Ya, jaraknya paling jauh 2 Km,” lanjutnya.
Bupati Arief itu mengungkapkan lokasi yang direncanakan untuk transmigrasi lokal berada di area Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Getas.
”Tentunya kami ingin mensukseskan pembangunan Bendung Karangnongko ditetapkan sebagai PSN. Tapi kami juga ingin menampung keinginan dan mencarikan solusi untuk masyarakat desa yang terdampak,” ungkap Staf Khusus Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia 2009-2014 itu.
Pihaknya menjelaskan jika selain soal relokasi, terkait ganti untung bagi mereka terdampak juga belum jelas. Karena pembebasan lahan belum berjalan.
"Semoga bisa dipindah di tempat yang mereka bisa di dekat situ. Sebagaimana yang kita usulkan,” tuturnya.
Menanggapi hal yang disampaikan oleh Bupati Blora, Menteri Iftitah Sulaiman menyambut baik usulan tersebut.
”Usulan Pak Bupati sangat bagus. Akan kami tindak lanjuti laporannya. Termasuk nanti ketika ketemu pak Presiden akan kami laporkan. Karena ide brilian dari pak bupati istilahnya transmigrasi lokal,” ucap Menteri Iftitah. (ari/zen/amr)