BLORA, RadarPati.ID – Prosesi kirab pusaka di kawasan Pendapa Rumah Dinas Bupati dan Wakil Bupati Blora berlangsung lancar dan khidmat pada Jumat dini hari.
Kirab ini diikuti oleh jajaran asisten bupati Blora, seluruh kepala dinas, camat, dan kades/lurah. Uniknya, suasana rombongan sunyi. Sebab, ini merupakan tapa bisu.
Rombongan berjalan dari Rumah Dinas Bupati Blora melewati Jalan RA Kartini-Jalan Dr Soetomo, Jalan Gunung Sumbing, Jalan Pemuda, dan kembali ke pendapa.
Petugas dan pengawal kirab mulai membuka jalan dan meminta masyarakat untuk kondusif, agar tidak mengganggu konsentrasi rombongan yang melintas.
Dalam rombongan kirab melibatkan beberapa rangkaian, meliputi pembawa obor, cucuk lampah, penabung bunga, pembawa sesaji, pembawa pusaka Kiai Bismo, dan komunitas tosan aji.
Rombongan kirab juga mengenakan pakaian adat Jawa Tengah lengkap. Meliputi blangkon, keris, stagen, ikat pinggang, alas kaki, beskap, dan aksesori lain.
Ketua DPRD Blora Mustopa mengatakan, kirab pusaka Kiai Bismo ini, merupakan wujud pelestarian budaya Indonesia. Keris pusaka itu, peninggalan bupati Blora terdahulu yang diwariskan secara turun-temurun kepada bupati selanjutnya.
”Ini menjadi tradisi yang melekat untuk memeringati hari jadi Blora,” katanya.
Dia menerangkan, dalam menjalankan prosesi itu, ada aturan yang harus ditaati peserta kirab.
Di antaranya, dilarang berbicara, makan, minum, maupun bercanda di sepanjang rute.
”Ini bertujuan menjaga kesakralan dan konsentrasi dalam menjalankan prosesi bersejarah,” terangnya.
Pada kirab pusaka ini, semua peserta kirab mengenakan busana pakaian adat Jawa warna hitam dan bawahan kain batik serta penutup kepala.
Selama perjalanan juga harus hikmat dengan memanjatkan doa kepada Tuhan, agar Kabupaten Blora hingga masyarakatnya diberikan keselamatan.
”Para peserta juga diminta serius, agar merasakan kebersamaan dan semangat gotong royong yang erat dan menyatu dalam setiap langkahnya,” terangnya.
Mustofa berharap, tradisi kirab pusaka Kiai Bismo tetap lestari dan terus dirayakan dalam semangat kebersamaan.
Sebab, merayakan keunikan budaya lokal seperti ini, adalah langkah penting dalam melestarikan warisan nenek moyang dan memperkuat keberagaman budaya. (ari/lin)