BLORA, Radar Kudus – Tak hanya masyarakat kota, judi online (judol) merebak hingga pelosok desa.
Tak hanya kalangan pendidikan rendah, tetapi judol itu merambah ke kalangan lulusan sarjana.
Ada pegawai BUMN, pegawai pemerintahan, hingga buruh serabutan.
Misalnya pegawai pemerintahan dan BUMN. Mereka biasanya memanfaatkan waktu siang istirahat untuk bermain sembari nongkrong di warung kopi hingga kantin.
Belakangan yang kasusnya terungkap adalah pegawai PPPK di Satpol PP Kabupaten Blora.
Yang bersangkutan digrebek dengan tiga orang warga saat asyik bermain judi online di warung kopi di Desa Brumbung Kecamatan Jepon.
Kepala Satpol PP Kabupaten Blora Pujo Catur Susanto menyebut jika pegawainya yang ditangkap kepolisian itu berinisial W, pegawai PPPK.
"Inisialnya W, bagian perencanaan. Statusnya PPPK. Masuk tahun kemarin (2023, Red)," katanya.
Menurutnya yang bersangkutan semula izin istirahat sejak pukul 12.30. Kemudian tak kunjung kembali. Barulah pada pukul sekitar 14.00 didapati kabar W ditangkap.
"Jam 12.30 WIB itu dia izin mau keluar ngopi dulu, kan itu jam istirahat," imbuhnya.
Tak hanya di satpol PP, dari penelusuran hal serupa juga terjadi di instansi lain. Tepatnya di salah satu rumah sakit.
Beberapa pegawai rumah sakit asyik bermain judi online di sebuah kantin.
Modusnya sama, mereka memanfaatkan waktu istirahat sembari nongkrong. Dan kemudian menggunakan smartphone miliknya untuk bermain.
Sementara di kalangan warga sipil, terutama usia produktif hingga dewasa judi online juga merebak. Tak tanggung-tanggung, mereka bisa bertransaksi hingga jutaan rupiah dalam sehari.
Meski sekarang sudah banyak yang judi online dengan alasan lebih mudah, praktis, bisa di mana saja, dan tak perlu berkumpul di satu titik seperti judi konvensional.
Namun judi konvensional di Blora tetap ada. Mulai dari togel, dadu, cap jiki, hingga sabung ayam.
Dari pengakuan R, beberapa daerah yang masih menjadi basis judi konvensional itu seperti di Dukuh Belik, Desa Tambaksari, Kecamatan Blora.
Kemudian di Dukuh Jatal, Desa ngilen, Kecamatan Kunduran. Kemudian di Desa Brumbung, Kecamatan Jepon. Hingga di Kecamatan Jiken, hingga Desa Tutup.
"Aktivitasnya di warung. Kalau togel, dadu, malam. Kalau sabung ayam ada markasnya," papar R.
Ia bahkan mengaku pada 2014 sempat jadi bandar togel. Membawahi semua yang ada di kabupaten Blora. Namun seiring waktu makin banyak bandar.
Sehingga ia pun perlahan mundur. Dan kini sudah tidak lagi. "Dulu ramai, sekarang sudah berkurang, namun masih ada," imbuhnya. (tos/zen)
Editor : Abdul Rochim