BLORA, RADARPATI.ID - Pemerintah Kabupaten Blora mulai menyiapkan penanganan bencana kekeringan di Kabupaten Blora.
Bersama BUMD dan BUMN, mereka mulai meminta bantuan air bersih untuk desa yang terdampak kekeringan di Kabupaten Blora.
Serta meminta bantuan provinsi untuk mendapat anggaran tambahan dalam menangani bencana kekeringan.
Bupati Blora Arief Rohman mengaku sebanyak ratusan desa di Kabupaten Blora mengalami bencana kekringan.
Namun, pada saat itu banyak pihak berusaha membantu untuk menanggulangi bencana kekeringan air bersih.
Pihaknya sudah mulai mendiskusikan dengan para BUMD dan BUMN serta pihak-pihak lainnya untuk mendapat pengadaan bantuan air bersih.
"Kami sudah memetakan desa-desa yang terdampak kekeringan. Pemetaan ini kami lakukan untuk bisa dilaporkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, agar nantinya kami mendapat bantuan dana air bersih," jelasnya.
Kepala Pelaksana Badang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora Mulyowati menyampaikan, memasuki awal musim kemarau ini pihaknya telah menyerahkan bantuan pembangunan sumur bor.
Untuk awal 2024 ini, dua sumur bor sudah dibangun di daerah rawan kekeringan.
Gebrakan awal ini dilakukan untuk respon cepat mengurangi bencana kekeringan Kabupaten Blora yang tertinggi di Jawa Tengah.
"Kedepannya akan kami lakukan pembangunan di desa-desa lainnya. Saat ini sudah kami petakan untuk potensi kekeringan di Blora. Semoga bisa berkurang dan membantu masyarakat," ujarnya.
Kasi Darurat dan Logistik BPBD Blora Abdul Mukhid menjelaskan, pada 2023 lalu tercatat ada 155 desa yang tersebar di 16 kecamatan mengalami kekeringan air bersih.
Pihaknya juga menerima catatan dari BNPB Jateng untuk segera membentuk peta rekayasa penanggulangan bencana kekeringan.
"Kurang lebih sebanyak ratusan desa yang terdampak kekeringan air. Ditambah sebanyak 5,92 juta liter air sudah disalurkan pada tahun lalu," ucapnya. (ari/war/ade)
Editor : Alfian Dani