BLORA, Radar Kudus – Beberapa sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Blora mengalami kekurangan siswa. Di antaranya SDN 4 Banjarego dua siswa. SDN Kamolan tiga siswa, SDN 6 Ledok Todanan empat siswa. Dan SDN 5 Jiken enam siswa.
Sekretaris Dinas Pendidikan Blora Nuril Huda menjelaskan mengakui hal itu. "Biasanya murid SD ada yang datang atau daftar kalau pas (sekolah, Red) sudah masuk," imbuhnya.
Salah satu sekolah itu yang didatangi wartawan koran ini adalah SDN 5 Jiken. Namun pihak sekolah tak berkenan menjelaskan terkait penerimaan siswa baru.
Komisi D DPRD Kabupaten Blora menyoroti banyaknya sekolah SD yang kesulitan dapatkan siswa.
Terlebih lantaran kalah saing dengan sekolah swasta. Sehingga diminta sekolah negeri harus meningkatkan daya saing.
Diberitakan sebelumnya dari total 572 sekolah dasar negeri (SDN) sebanyak 530 di antaranya kekurangan murid.
Kondisi itu turut membuat anggota DPRD komisi D Achlif Nugroho Widi Utomo prihatin. Sebab kondisi tersebut terbilang kritis.
"Beberapa kali rapat dinas pendidikan. Yang terkait kekurangan siswa di SDN kami uraikan," jelasnya.
Dari rapat dan diskusi itu ternyata ada beberapa masalah yang akhirnya terkuak. Di antaranya jumlah anak usia sekolah mengalami penurunan.
Sehingga dalam satu desa yang semula ada beberapa sekolah SDN juga kekurangan.
"Sekarang jumlah siswa dan sekolah gak relevan. Siswanya sedikit. Tapi ada beberapa sekolah," imbuhnya.
Selain harus bersaing menarik perhatian siswa yang jumlahnya terbatas, SDN negeri juga dihadapkan pada masalah lain. Yakni harus bersaing dengan sekolah swasta.
"Muncul sekolah SD swasta yang jadi kompetitor dalam tanda kutip, saat penerimaan siswa baru," paparnya.
Namun menurutnya hal itu tak salah. Sebab keberadaan sekolah swasta juga berdampak positif.
Karena akan membuat sekolah berkompetisi sehingga berupaya memberikan pelayanan pendidikan terbaik agar diminati.
"Akhirnya kan berkompetisi. Hanya saat itu terjadi maka perlu pembenahan di sekolah internal negeri. Bagaimana mengembangkan pendidikannya, fasilitas perlu dipenuhi. Ini yang perlu dilakukan," tuturnya.
Sebab sejauh ini ada pandangan orang tua cenderung menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.
Lantaran memiliki kelebihan lain berupa durasi pembelajaran agama yang lebih.
"MI lebih banyak muridnya, dan lainnya. Karena orang tua ingin anaknya mendalami pendidikan agama. Sehingga saat bupati launching SSN itu memberikan harapan. Meski itu pro kontra. Misal bagaimana nanti TPQ dan Madin," jelasnya.
Selain itu ia meminta sekolah negeri mengembangkan fasilitas yang dibutuhkan anak saat ini. Seperti drum band, fasilitas olahraga dan lainnya.
Sebab orang tua dan anak menghendaki ketersediaan atas fasilitas ektra seperti itu.
"Artinya keberadaan sekolah swasta ini kami rasa tak masalah. Selama ini izinnya jelas dan clear," tambahnya.
Ia pun meminta dinas pendidikan mulai memetakan hal-hal tersebut. Termasuk mencoba adanya merger sekolah. Jika memang kondisinya sudah mendesak.
"Harus dievaluasi bertahap. Jika sekolah tak terpenuhi lebih baik merger saja," imbuhnya. (tos/zen)
Editor : Abdul Rochim