Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Masjid Al Ma'shum Jepon Blora, Bermula dari Musala Kecil Saksi Lahirnya PCNU Pertama di Indonesia

Eko Santoso • Kamis, 28 Maret 2024 | 23:18 WIB
UNIK: Masjid Al Ma
UNIK: Masjid Al Ma

 


BLORA, RADARPATI.ID – Meski tampak sederhana, Masjid Al Ma'shum yang berada di Dukuh Pelem, Kidangan Kelurahan Jepon, Blora menyimpan catatan sejarah penting.

Lantaran menjadi saksi bisu lahirnya Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) pertama di Indonesia.

Didirikan sekitar tahun 1910 oleh Mbah Ma’shum Syamsudin, Masjid Al Ma'shum saat itu merupakan musala.

Yang digunakan sebagai tempat ibadah dan menyebarkan ajaran agama Islam di lingkungan sekitar.

Nama masjid sendiri juga diambil dari nama pendirinya, yaitu Ma'shum bin Syamsuddin, disebut-sebut sebagai saksi bisu cabang pertama organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia.

Layaknya masjid Jawa, ada empat tiang utama dari kayu jati yang besar.

Kemudian masih ada ornamen-ornamen tempo dulu yang tetap dipertahankan, seperti kentongan, bedug, mimbar, hingga pendopo.

Ketua Takmir Masjid Al Ma'shum, Rachman Chamdani menjelaskan Mbah Ma'shum sebenarnya bukan asli Blora.

Melainkan seorang kiai yang lahir di Desa Tinatah, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang yang kemudian menyebarkan agama Islam di Blora.

"Dalam perkembangannya, kemudian kan NU berdiri di Surabaya pada 31 Januari 1926. Nah Cabang NU pertama di Indonesia ada di Kabupaten Blora berdiri pada 1927," imbuhnya.

Bahkan, acara peresmian NU Cabang Blora tahun 1927 secara langsung dihadiri KH Wahab Hasbullah, KH Hasyim Asy'ari, dan KH Abdullah Ubaid.

Saat itu menurutnya PCNU Blora terpusat di Kidangan. Dan masjid tersebut menjadi tempat dakwah dan kegiatan organisasi.

Sayang saat itu Belanda masih bercokol. Sehingga usaha-usaha yang dilaksanakan NU Cabang Blora sering mendapat hambatan dan rintangan dari Belanda.

Bahkan, Kiai Ma’shum selaku pendiri NU Cabang Blora pernah ditahan oleh Belanda.

"Dari situ akkhirnya mulai 1930, NU Cabang Blora dipindahkan dari yang semula berkedudukan di Kidangan ke Blora Kota," katanya.

Mbah Ma'shum wafat pada 1947 dan dimakamkan di Kidangan, Kabupaten Blora. Perjuangannya pun diteruskan para muridnya.

Hingga akhirnya pada tahun 1983, musala dipugar menjadi sebuah masjid oleh murid KH Maksum yang bernama KH Cholil agar mampu menampung lebih banyak jemaah.

Meski mengalami pemugaran total, namun empat tiang utama, bedug dan kentongan kuno masih tetap dipertahankan hingga saat ini. (tos/aua)

Editor : Achmad Ulil Albab
#Nahdlatu Ulama #bersejarah #masjid #jepon #blora