BLORA, RADARPATI.ID - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora terus berupaya untuk meningkatkan Wisata Heritage Loco Tour.
Saat ini sudah sampai tahap perencanaan. Namun, untuk mengaktifkan jalur kereta tua ini perlu bantuan investor.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Blora Mahbub Djunaidi mengatakan, sampai saat ini timnya tengah menyusun terkait aktivasi kembali wisata peninggalan atau warisan pada zaman penjajahan.
Daerah Cepu itu sejak krisis moneter 1998 yang lalu ada kereta uap yang sempat berhenti beroperasi. Namun sejak 17 Januari 2018 diaktifkan kembali.
"Setelah diaktifkan itu, kami perlu meningkatkan wisata tersebut. Caranya dengan mengaktifkan kembali jalur dengan etapel tiga. Kami juga sudah mengajak diskusi KPH Cepu dan meminta kesepakatan untuk diaktifkan kembali jalur yang berada di tanah perhutani," ujarnya.
Dia menambahkan, KPH perhutani Cepu sudah menyepakati hal tersebut dan sudah ditawarkan apakah pemkab atau perhutani yang mencari investor.
Nanti rencananya akan ditawarkan wisata Loco Tour dari Cepu ke jalur Bobrosot dan terakhir di Wisata Gubug Payung Sambong.
"Saat ini belum kami tawarkan ke publik, namun kedepannya akan kami pamerkan untuk menggaet investor untuk mendanai. Rencananya juga akan ada pembangunan tempat pemberhentian sementara yakni di Sambong, ketika kereta sudah berhasil dioperasikan," ucapnya.
Jabatan Fungsional Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappeda Blora Wawan Dedi Marahendra mengatakan, kereta wisata Loco Tour itu baru berhasil direstorasi sekitar 10 persen dari total panjang jalur rel.
Yakni dari Cepu sampai ke TPA Batokan. Padahal panjang jalur pada zaman Belanda sekitar 300 km.
Baca Juga: Inflasi di Rembang Masih Tinggi, Operasi Pasar Bakal Menyasar Sampai ke Desa
"Ratusan kilometer besi rel kereta itu raib dicuri selama krisis ekonomi. Makanya tak heran jika butuh anggaran sebesar Rp 35 triliun untuk mengembalikan jalur yang hilang,"jelasnya.
Dia menambahkan, untuk anggaran sebesar itu tim sudah memperhitungkan untuk fokus membenahi etapel 3 itu dari Bobrosot ke Wisata Gubug Payung anggaran sekitar 30 miliar.
Sedangkan etapel 2 itu cukup panjang jalurnya dan banyak biayanya. Yakni dari TPA Batokan ke Bobrosot.
"Etapel 1 dari Sorogo ke Batokan itu sudah ada jalurnya, dan kertas yang digunakan yakni kereta diesel. Saat ini kami akan fokus dari Bobrosot ke gubug payung, karena disana juga ada wisata Gubug Payung dan nantinya secara tidak langsung akan mengaktifkan lagi wisata tersebut," tuturnya. (ari/ali/ade)